Takengon | 03 Oktober 2005
Kurasakan
ada bayangan mengejar dibelakangku,
diantara ratusan siswa berseragam biru, saat aku melangkah gontai sekitar 100
meter dari gerbang SMK Negeri 1 Takengon. Aku kelas II dan kau kelas I.
Bayanganmu tetap sama hingga kini, seragam putih abu-abu, yang kalau
diperhatikan dari ukurannya tidak akan pernah pas untuk ukuran tubuh mungil
itu.
Sejak hari itu
semua terlihat berbeda, setidaknya dari mataku.
Semua terasa
berubah, kalaupun tidak bagi orang lain, jelas terasa berbeda bagiku.
Hari-hariku
terasa lebih berwarna. Setiap siang sepulang sekolah aku menjemputmu didepan
kelas, atau kau atau aku
akan menunggu didepan gerbang sekolah.
Kita tahu semua
orang, oh tidak. Sebagian orang lain juga mengalami hal itu, tetapi ini hanya
antara kita berdua, tidak ada orang lain.
Ingatkah dirimu
setiap sore setelah mengantarmu naik labi-labi diterminal Baleatu aku selalu
merasa harus mengirim selembar sms mengingatkanmu untuk makan dan mandi, hal
yang konyol untuk diingat atau diketahui oleh orang lain. Tetapi yang lebih
konyol menurutku adalah aku menghafal nomer handphone-mu untuk bisa meminjam
handphone siapa saja yang kukenal untuk melakukan hal konyol tersebut.
Satu hal lagi
yang cukup aneh untuk dilakukan menurutku, saat kau kirim kabar ke-handphone
salah seorang temanku bahwa kau mengganti nomer handphonemu. Aku takut tidak
bisa menghafalnya dan aku tuliskan disisi lipatan dalam baju seragam olahraga
warna biru langit itu. Sekian tahun kemudian aku temukan dilemari dan ternyata
nomer itu masih disana, masih bisa terbaca walaupun sedikit memudar. Entah
dimana seragam itu sekarang, sebuah penyesalan karena kehilangannya.
***
05 Mei 2006
Aku ingatkan
diriku setiap hari untuk selalu mengingat hari ini, bukan tanggalnya, tetapi
harinya. Adalah hari pertama ulang tahunmu setelah kita pacaran. Adalah hari
dimana aku serahkan sebuah boneka beruang biru kecil untukmu, yang kubeli dari
toko mainan bermerek serba 6000, tetapi harganya seingatku 15 ribu. Beruang
kecil yang manis yang kuharap akan kau peluk saat tidurmu, ditambah sebuah pin
kecil bergambar Taurus, harganya 5x lebih murah dari beruang itu. Masihkah kau
menyimpannya…
Kau dan aku tahu
bahwa aku menganggapmu tetaplah seorang anak kecil walaupun saat itu kau telah
duduk dikelas II, itu terjadi secara naluriah menurutku. Semua itu mungkin
karena sikapmu yang begitu manja, cara bicara yang menurutku membuatmu lebih
pantas duduk dikelas I SMP. Tetapi hal-hal kecil itulah yang tidak pernah
terhapuskan dari ingatanku hingga saat ini.
Hal lain yang
tidak pernah terlupakan menurutku, dua tahun lebih kita jalani hubungan
pacaran. Aku cuma sempat memegang tangan dan memelukmu beberapa kali, satu dari
pelukan itupun hanya kulakukan dipinggir danau saat libur semester. Hal yang
terkadang menjadi sebuah penyesalan, tetapi terkadang malah membuatku merasa
terhormat karena bisa menjagamu dari nafsu dan segala sesuatu tentangnya.
Kau tahu kita
bukan tidak punya kesempatan melakukan lebih dari yang bisa kita lakukan saat
itu, karena kita sering bersama dimana terkadang kau larut sendiri dalam
pelukanku tanpa hiraukan kita sedang berada dimana, dengan siapa saja dan dalam
suasana apa…
Kau juga bukan
tidak pernah menengadahkan wajah mendekatkan bibirmu ke bibirku, bukan tidak
pernah ! Tetapi yang kuingat saat itu adalah aku memelukmu untuk melindungimu,
dan walaupun pernah terlintas untuk melakukan lebih tetapi pikiran-pikiran
semacam itu berlalu begitu saja.
Sekian bulan
setelah itu aku memikirkan sedikit jawaban kenapa kita tidak melakukannya, dan
sekian tahun setelah perpisahan yang tidak pernah dibicarakan, setelah semua
berlalu dengan begitu menyakitkan, aku mulai menemukan beberapa jawaban.
Teringat aku saat
dimana kita terakhir kali bertemu dalam suasana murung itu. Sore yang suram
sesuram rasaku yang tidak bisa berkata apa-apa untuk menyatakan perpisahan
denganmu, itu dua jam lebih yang menyakitkan tanpa bisa berbicara.
Taman selatan
lapangan Musara Alun Takengon, kita tetap dengan dunia kita berdua meskipun
ditengah lapangan belasan orang berebut bola, meskipun disudut taman kecil itu
banyak pasangan dengan canda serta tawa mereka. Kembali seperti 03 Oktober
2005, hanya ada kita meskipun suasana sendu menggoreskan cakarnya pada tanah
yang kita tatap.
Sesaat sebelum
beranjak dari sana kau mulai terisak sambil mengeluarkan photo-photo itu, tiga
buah photo tentang aku, dirimu serta aku dan dirimu.
“ Srrrrrrakkkkk “. Tanpa
bisa kucegah ketiganya runyah berlapis ditanganmu, beterbangan ditiup angin
barat menyisakan debu kertas dan duka berkepanjangan hingga saat ini.
Kau bangkit tanpa
sedikitpun usahaku untuk mencegahmu, terisak dan pergi tanpa menoleh lagi
hingga kini. Aku kalang kabut dalam pikiranku saat itu hingga topi pet
pemberianmu diulang tahunku yang ketujuh belas hilang disana tanpa aku ingat
dimana menaruhnya dan siapa yang mengambilnya.
***
14 Mei 2012 (
Pukul 06.02 Subuh )
Kubuka dan kubaca
pesan singkat dihandphone-ku :
“ kak`e ntr mlm
ai brangkat ke serbejadi lukup…. do`in ya kak selamat sampai tujuan “
Aku balas
beberapa kali sampai aku tidak ingat membalas lagi karena saat itu aku sedang
dijalan pulang.
***
18 Mei 2012 (
Pukul 01.29 Dini hari )
“ Nyampe ke sms
Kaka`ni….
Hm..
Sekarang mungkin
K2 bisa bicara sama Ai pake bhs lbh dewasa,
Sebab dirimu
bukan anak2 lagi…
Hm..
Dengar kabar
bahwa sekarang dirimu jauh, seperti mendengar kabar aku kehilangan sesuatu.
Aku selalu
berfikir.. Setelah sekian tahun apakah semua ini bukan kehilangan ?
Lantas kenapa
perasaan itu kembali datang….
BLS secepat
mungkin (like along time ago) “
Kutunggu
jawabanmu beberapa saat, ternyata tidak ada. Mungkin kau lelah setelah seharian
mengajar disebuah sekolah di Lukup Serbejadi sana, dimana kau ditempatkan
menjalankan bakti profesi sebagai calon guru dari jurusan keguruan yang kau
ambil.
Sesaat setelah
kukirim pesan itu kutuliskan apa yang kuingat dari kisah kita, dan satu hal
Ai….
Aku temukan
jawaban kenapa aku masih mengingatmu, karena perasaan ini masih milikmu !
***
12 Agustus 2013
Lupa aku
menuliskan kabar terakhir darimu, kau telah bahagia bersamanya sekarang,
seingatku telah sekian bulan kau menikah, seingatku aku juga hadir disana hari
itu.. Semoga dengannya kau temukan kebahagiaanmu.
***
Sekian