Breaking News

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sebuah Cerpen "Harapan Itu Masih Ada"

Written By Unknown on 14 Des 2013 | 14.56

Masing-masing dari kalian telah merasakan cinta yang lain sekarang, cinta yang membuat kalian merasa berbeda, yang aku tebak tidak semenarik kisah cinta saat kalian masih bersama.

Hena.. Hena...

Dibalik pengakuanmu padaku kau katakan cintamu tidak pernah mati untuknya, bahwa cintamu yang sekarang bersifat murni sebuah perjanjian yang tidak melulu berakhir dengan ikatan pernikahan.

Hena, tahukah kau jebakan ini kau buat sendiri, sementara kau katakan dia yang sekarang bukan tujuan cintamu sebenarnya. Tetapi sampai keturunan ketiga dikeluargamu telah tahu kau memiliki kisah lain dengannya selain kisahmu yang kau tinggalkan. Bagaimana kau harus mengatakan kepada dirimu sendiri kalau kau telah menerima dia yang sekarang tetapi tidak pernah kau lupakan dia yang dulu. Sementara dibalik semua kisah yang kau ukir dengan dia yang sekarang, kau selalu mengatakan padaku kau masih berharap seseorang akan berubah untukmu. Sementara.. Hubungan cintamu yang sekarang bukanlah merupakan rahasia yang tidak diketahui oleh dia yang kau tinggalkan.

Masih ingatkah kau Hena, kau pernah mengatakan akan mengakhiri cintamu yang sekarang setelah rasa kasmaran padanya berkurang pudar tenggelam oleh waktu. Masih ingatkah kau Hena, kau hanya menunggu waktu untuk mengatakan tidak padanya karena hatimu masih terpaut kepada masa lalumu yang sekarat karena kehidupan burung hantunya. Tetapi apa yang kau katakan kemarin seolah kau lupa apa yang kau utarakan tempo hari, seolah kau melupakan janjimu pada lidahmu sendiri bahwa ikatan kalian yang sekarang tidak akan kekal.

Sebentar aku ingat-ingat apa yang kau katakan kemarin, " rasanya aku telah jatuh cinta perlahan-lahan kepadanya. " Tanpa rasa bersalah kau ucapkan itu.

Aku terus terang hampir mengerti jalan pikiranmu, tetapi kenapa kau katakan seseorang harus berubah agar kau mau kembali kepelukannya sementara kau mulai mencintai seserang yang lain yang sebelumnya kau dedikasikan untuk pelampiasan rasa kesalmu.

Apa kau akan menjawab pertanyaanku, apa kau akan dengan mudah menjawab bahwa kau telah terjebak waktu, apa kau akan bisa mengatakan lagi kau masih berharap dia akan menerimamu sebagai seorang yang pernah meninggalkanmu. Dia yang kau tinggalkan karena kehidupannya berbeda, karena malam dan siangnya berada ditempat sebaliknya.

Kau menjawabnya ternyata. Tadi aku dengar dari orang lain kau mengatakan akan kembali padanya kalau dia berubah, sementara dengan dia yang sekarang telah kau temukan seseorang yang kau cari, yang cocok dengan penilaian keluargamu, yang punya rutinitas kehidupan yang persis dengan keluargamu.

Aku coba tebak sekarang, kau masih saja tetap berharap dia yang dulu berubah jadi manusia dan kembali kepadamu. Seorang teman pernah mengatakan padaku bahwa hakikat dari mencintai adalah mencintai apa yang kau lihat Hena, bukan mencari apa yang tidak ada untuk kau cintai. Karena itu bukan cinta. Katanya

***

Sementara kau Reza, apa yang telah coba kau lakukan setelah kau merasa dikhianati oleh cintamu sendiri yang tidak bisa menerima sayapmu yang terbang ditengah malam. Apa kau merasa dengan mudahnya bisa mendapatkan cinta lain yang juga akan kau surati ditengah malam, bukankah kau tahu cinta yang lain itu juga akan tidur ditengah malam.

Apa yang coba kau jawab untuk menampik pertanyaanku tadi, "tetapi suratku dibalasnya dari tengah malam menjelang pagi." Katamu begitu.

Jelas dia menjawabnya karena dia melihat seseorang yang bisa hidup pada siang hari, karena dia baru saja mengenalmu, karena dia (atau mereka) belum berfikir sejauh si Hena berfikir. Pikirkanlah.

Terus terang dibalik semua dialog itu aku tetap berfikir kau melakukan niatmu yang kau utarakan saat kau mulai kehilangan cintamu yang kemarin. Kemarin kau jelaskan kalau kau akan menabur dendam kalau dia benar-benar melupakan cintamu, ibarat makanan kau bilang bahwa makanan sejenis dia akan kau makan setengahnya dan kau buang dijalanan lalu mencari makanan lain yang selanjutnya akan kau buang lagi.

Sementara diakhir-akhir ini kau masih mendengar dia yang dulu masih berharap kau berubah, kau juga masih sering mendapat titipan pesan kalau kau berubah dia akan kembali merengkuhmu dalam cintanya. Aku lihat dalam sikapmu kau masih berharap dan tersenyum mendengar semua itu, gerak gerikmu masih menjawab bahwa cintamu masih miliknya walau apa yang semalam kau katakan bertentangan. Kau hanya menjawab itu sebatas memaniskan ujung lidahmu yang getir akan rasa rindu yang menggebu akan sikap manjanya seperti hari-hari yang lalu. 

Walaupun dibalik semua itu kau tenggelam semakin dalam di kehidupan malammu karena siang hari sayapmu yang mengantuk rontok tidak sanggup terbang. Meskipun kau merasakan beberapa cinta lain sedang mendekat dan sedang dekat, kau tetap mencari kesempatan untuk melihat dia yang dulu dalam ingatanmu.

Aku tetap mendengarkan penuturanmu yang gamblang semalam, bahwa kau sangat benci dia berfikir kau akan mau kembali bersamanya kalaupun dia masih mau menerimamu. Dengan keadaanmu yang sekarang atau dengan perubahan yang diharapkannya.

***

Cerita ini akan jadi saksi selama kalian masih ada, selama kalian berdua masih bersama keinginan kalian atau kalian berdua memutuskan untuk mencampur keinginan itu lagi.

11 Desember 2013 (Zen)

Serenade Senja Di Serempah

Written By Unknown on 28 Nov 2013 | 04.25

Lembayung senja menghantar langkah pada bulir-bulir daun tebu yang basah. Lembab dari sisa hujan yang turut meringis melihat puing-puing kehidupan yang tak lagi berdiri kokoh. Terseok, rapuh. Payung-payung besar membentang disepanjang jalanan, gantikan peran genteng dan beton yang tak lagi setia. Si kaya mulai tak nyaman dengan dinding kokohnya, sementara yang dianggap miskin merasa nyaman dengan hangatnya papan.
Luttawar.com
Serempah Pasca Gempa 02 Juli 2013 
(foto koleksi Fauraria Valentine)
Aroma caramel dari pabrik gula memenuhi rongga penciuman, memaksa masuk kedalam aliran darah kemudian menuju jantung. Mencoba hidupkan kembali detakan nadi yang melemah. Memastikan benar ini tempat yang sama, meski tak benar sama rupanya saat ini; Blang mancung.
Pilunya remang rona wajah memenuhi pinggiran jalan. Tak jauh, aku melihat miniatur perkampungan.  Menyatu karena kotakkan nasib yang sama. Memenuhi rumah-rumahan kecil untuk tiap kampung yang berbeda. Berwarna biru cerah, membentang kokoh dengan coretan kecil berwarna oranye di atasnya, BNPB; Posko pengungsian Rajawali.
Tersimpan harap dalam tiap sapa wajah, membahasakan pilu dalam diam. Rekahan tawa bocah yang memucat bersama deru keramaian. Terngiang gemuruh petir dan reruntuhan di hari itu. Hari yang panjang, hari yang menggandeng mesra duka dalam balutan kelamnya malam. Menyisakan landscape sendu yang tak berujung. Aku masih belum menemukan yang kucari.
Seorang laki-laki paruh baya mendekati sepeda motorku yang terlihat semakin usang dibelai debu dan lumpur. Bernyanyi lagu sendu dalam nada yang sumbang, tentang perginya istri dan buah hati yang menyatu bersama tanah, tanpa diminta. Bulir-bulir air mata mendesak keluar dari kelopak mata, bibir bergetar kaku, pucat. Seraya bercermin diri. Genggaman tangannya yang dingin mengingatkan ku tentang apa yang ku cari. Bersama senyuman lembutnya, kemudian berlalu, menjauh. “Tak waras”, mungkin terlalu kasar untuk menggambarkannya. Ia hanya tak lagi berada dalam dimensi yang sama.
Debu jalanan mengelus lembut kulit, bersama angin mereka ingin berbagi kemesraan. Menghibur diri yang kalut. Aku hanya ingin sampai di rumah. Kerikil menggelitik kesabaran, ruas jalan yang sekarat seolah ingin membawaku turut dalam kepedihannya. Terus menukik turun, menuju dasar lembah. Hamparan hijau padi terlihat memucat. Tak lagi merona seperti biasanya. Tak lagi memanggil untuk musim panen yang membahagiakan. Membeku, kaku. Bersama rasa bersalahnya karena tak mampu berbuat.
Jembatan besi Bah menjadi pintu gerbang dari puncak kepedihan yang sedari tadi mencoba membendung. Teriakan miris terdengar dari tenda pengungsian yang berada di depan sekolah dasar ku dulu, memanggil-manggil sebuah nama. Diikuti teriakan lainnya, senandung pilu yang lebih dalam, semakin dalam. Kampung ini seraya berparodi untuk sebuah kepedihan abadi yang tak terobati. Atas ketetapan yang tak bisa dielakkan. Longsoran di sungai ternyata turut menggulung 4 orang anak yang sedang mandi disana, tak biarkan waktu lebih lama bersama kebahagiaannya.
Langit membawa awan hitam bersamanya, tontoni raga dengan luka yang menganga pada jiwa. Mencibir lembut. Sesekali gertakan kilatnya mencoba riuhkan suasana. Sesak. Aku terus mengitari jalan menembus pilu. Mendengarkan irama pepohonan yang bercerita tentang dukanya.
Aku hanya ingin sampai di rumah, sampai di rumah dengan sambutan Ine dan Ncu seperti biasanya. Ncu tahu betul suara sepeda motorku. Biasanya, ia selalu menanti di depan pintu, berharap aku membawa pesanannya dari kota. Kali ini raket, mainan yang ia minta untuk menemani ramadhannya. 
“ Aku membawanya ngi, dan kita akan bermain bersama. Melupakan segala duka yang di bawa hari . . . ”
Pipi ku menjadi pendaratan mulus bulir-bulur air mata yang tak lagi mampu terbendung. Pandangan semakin buram. Kepala ku di penuhi berjuta gambaran yang tak ingin ku percayai. Mencoba berprasangka baik atas semuanya.
Sepeda motor ku terhenti tepat di depan rumah Cik Nanda, memandangi lembah baru yang terbentuk secara alami dalam hitungan detik. Menyisakan retakan pada ujung bibirnya. Atap-atap rumah melambai dari kejauhan, tak berbentuk. Ku coba pahami atas apa yang kulihat, sulit dipercaya. Seharusnya rumah ku ada di sana, hanya berselang 5 rumah dari rumah Cik Nanda.
“Weeeeeen . . .” rangkulan tangan melingkar di pundakku. Tubuhnya gemetar, menahan tangis yang tak lagi bersuara.  Suara parau yang sulit ku raba siapa pemiliknya. Bersebuku tepat ditelingaku, memaparkan kalimat-kalimat yang tak mampu aku mengerti dengan jelas namun berbalut luka. Samar ku dengar nama Ine dan adik ku ia sebutkan. Sontak ku perjelas pandangan ku pada tubuh kurus itu. Memastikan bahwa ia benar mak pun Imah, adik ipar Ama. Kelopak matanyanya merah dan bengkak. Tak habis kata terus ia muntahkan, meski aku mulai membenci apa yang ia katakan.
Perempuan itu masih bersama tangisnya ketika kutinggalkan. Hanya ada kekosongan pada diri, pupil mata ini tak mampu melihat jelas sekeliling. Tak ada yang mampu kulakukan ketika melihat rumah rata dengan tanah, rumah mak Mar, Ibi Jurai dan yang lainnya. Dimana Ine ? Dimana  Ncu ku. Aku yakin mereka masih di rumah menantiku.
“Aku akan mencari Ncu dan Ine. Ncu pasti senang sekali karena ku bawakan raket. Mereka pasti ada di bawah sana. Aku harus kesana . . . .”
Samar ku dengan suara-suara memanggil namaku. Memekik pilu seperti yang kudengar diBah tadi. Tak tahu apa yang mereka risaukan. Mereka terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Saat ini aku hanya ingin berada pada dimensi yang sama dengan Ine dan Ncu. (Valent)

Sebuah Cerpen | Ai

Written By Unknown on 25 Sep 2013 | 07.24

Takengon | 03 Oktober  2005

Cerpen
Kurasakan ada  bayangan mengejar dibelakangku, diantara ratusan siswa berseragam biru, saat aku melangkah gontai sekitar 100 meter dari gerbang SMK Negeri 1 Takengon. Aku kelas II dan kau kelas I. Bayanganmu tetap sama hingga kini, seragam putih abu-abu, yang kalau diperhatikan dari ukurannya tidak akan pernah pas untuk ukuran tubuh mungil itu.

Sejak hari itu semua terlihat berbeda, setidaknya dari mataku.
Semua terasa berubah, kalaupun tidak bagi orang lain, jelas terasa berbeda bagiku.
Hari-hariku terasa lebih berwarna. Setiap siang sepulang sekolah aku menjemputmu didepan kelas, atau kau atau aku akan menunggu didepan gerbang sekolah.
Kita tahu semua orang, oh tidak. Sebagian orang lain juga mengalami hal itu, tetapi ini hanya antara kita berdua, tidak ada orang lain.

Ingatkah dirimu setiap sore setelah mengantarmu naik labi-labi diterminal Baleatu aku selalu merasa harus mengirim selembar sms mengingatkanmu untuk makan dan mandi, hal yang konyol untuk diingat atau diketahui oleh orang lain. Tetapi yang lebih konyol menurutku adalah aku menghafal nomer handphone-mu untuk bisa meminjam handphone siapa saja yang kukenal untuk melakukan hal konyol tersebut.

Satu hal lagi yang cukup aneh untuk dilakukan menurutku, saat kau kirim kabar ke-handphone salah seorang temanku bahwa kau mengganti nomer handphonemu. Aku takut tidak bisa menghafalnya dan aku tuliskan disisi lipatan dalam baju seragam olahraga warna biru langit itu. Sekian tahun kemudian aku temukan dilemari dan ternyata nomer itu masih disana, masih bisa terbaca walaupun sedikit memudar. Entah dimana seragam itu sekarang, sebuah penyesalan karena kehilangannya.
***

05 Mei 2006

Aku ingatkan diriku setiap hari untuk selalu mengingat hari ini, bukan tanggalnya, tetapi harinya. Adalah hari pertama ulang tahunmu setelah kita pacaran. Adalah hari dimana aku serahkan sebuah boneka beruang biru kecil untukmu, yang kubeli dari toko mainan bermerek serba 6000, tetapi harganya seingatku 15 ribu. Beruang kecil yang manis yang kuharap akan kau peluk saat tidurmu, ditambah sebuah pin kecil bergambar Taurus, harganya 5x lebih murah dari beruang itu. Masihkah kau menyimpannya…

Kau dan aku tahu bahwa aku menganggapmu tetaplah seorang anak kecil walaupun saat itu kau telah duduk dikelas II, itu terjadi secara naluriah menurutku. Semua itu mungkin karena sikapmu yang begitu manja, cara bicara yang menurutku membuatmu lebih pantas duduk dikelas I SMP. Tetapi hal-hal kecil itulah yang tidak pernah terhapuskan dari ingatanku hingga saat ini.

Hal lain yang tidak pernah terlupakan menurutku, dua tahun lebih kita jalani hubungan pacaran. Aku cuma sempat memegang tangan dan memelukmu beberapa kali, satu dari pelukan itupun hanya kulakukan dipinggir danau saat libur semester. Hal yang terkadang menjadi sebuah penyesalan, tetapi terkadang malah membuatku merasa terhormat karena bisa menjagamu dari nafsu dan segala sesuatu tentangnya.

Kau tahu kita bukan tidak punya kesempatan melakukan lebih dari yang bisa kita lakukan saat itu, karena kita sering bersama dimana terkadang kau larut sendiri dalam pelukanku tanpa hiraukan kita sedang berada dimana, dengan siapa saja dan dalam suasana apa…

Kau juga bukan tidak pernah menengadahkan wajah mendekatkan bibirmu ke bibirku, bukan tidak pernah ! Tetapi yang kuingat saat itu adalah aku memelukmu untuk melindungimu, dan walaupun pernah terlintas untuk melakukan lebih tetapi pikiran-pikiran semacam itu berlalu begitu saja.

Sekian bulan setelah itu aku memikirkan sedikit jawaban kenapa kita tidak melakukannya, dan sekian tahun setelah perpisahan yang tidak pernah dibicarakan, setelah semua berlalu dengan begitu menyakitkan, aku mulai menemukan beberapa jawaban.

Teringat aku saat dimana kita terakhir kali bertemu dalam suasana murung itu. Sore yang suram sesuram rasaku yang tidak bisa berkata apa-apa untuk menyatakan perpisahan denganmu, itu dua jam lebih yang menyakitkan tanpa bisa berbicara.

Taman selatan lapangan Musara Alun Takengon, kita tetap dengan dunia kita berdua meskipun ditengah lapangan belasan orang berebut bola, meskipun disudut taman kecil itu banyak pasangan dengan canda serta tawa mereka. Kembali seperti 03 Oktober 2005, hanya ada kita meskipun suasana sendu menggoreskan cakarnya pada tanah yang kita tatap.

Sesaat sebelum beranjak dari sana kau mulai terisak sambil mengeluarkan photo-photo itu, tiga buah photo tentang aku, dirimu serta aku dan dirimu.

Srrrrrrakkkkk “. Tanpa bisa kucegah ketiganya runyah berlapis ditanganmu, beterbangan ditiup angin barat menyisakan debu kertas dan duka berkepanjangan hingga saat ini.

Kau bangkit tanpa sedikitpun usahaku untuk mencegahmu, terisak dan pergi tanpa menoleh lagi hingga kini. Aku kalang kabut dalam pikiranku saat itu hingga topi pet pemberianmu diulang tahunku yang ketujuh belas hilang disana tanpa aku ingat dimana menaruhnya dan siapa yang mengambilnya.
***

14 Mei 2012 ( Pukul 06.02 Subuh )

Kubuka dan kubaca pesan singkat dihandphone-ku :

kak`e ntr mlm ai brangkat ke serbejadi lukup…. do`in ya kak selamat sampai tujuan

Aku balas beberapa kali sampai aku tidak ingat membalas lagi karena saat itu aku sedang dijalan pulang.
***

18 Mei 2012 ( Pukul 01.29 Dini hari )

Nyampe ke sms Kaka`ni….
Hm..
Sekarang mungkin K2 bisa bicara sama Ai pake bhs lbh dewasa,
Sebab dirimu bukan anak2 lagi…
Hm..
Dengar kabar bahwa sekarang dirimu jauh, seperti mendengar kabar aku kehilangan sesuatu.
Aku selalu berfikir.. Setelah sekian tahun apakah semua ini bukan kehilangan ?
Lantas kenapa perasaan itu kembali datang….
BLS secepat mungkin (like along time ago)

Kutunggu jawabanmu beberapa saat, ternyata tidak ada. Mungkin kau lelah setelah seharian mengajar disebuah sekolah di Lukup Serbejadi sana, dimana kau ditempatkan menjalankan bakti profesi sebagai calon guru dari jurusan keguruan yang kau ambil.

Sesaat setelah kukirim pesan itu kutuliskan apa yang kuingat dari kisah kita, dan satu hal Ai….
Aku temukan jawaban kenapa aku masih mengingatmu, karena perasaan ini masih milikmu !
***

12 Agustus 2013


Lupa aku menuliskan kabar terakhir darimu, kau telah bahagia bersamanya sekarang, seingatku telah sekian bulan kau menikah, seingatku aku juga hadir disana hari itu.. Semoga dengannya kau temukan kebahagiaanmu.
***

Sekian
 
Support : Creator Website | Muhammad Zaid Zuhdi | Bandung
Copyright © 2011. BLOGGER TAKENGON - All Rights Reserved
Redaksi Luttawar Menerima Kiriman Tulisan dan Foto dari Pembaca
Kirimkan Tulisan dan Foto Anda Via E-mail | redaksiluttawar[at]gmail.com |