Breaking News

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan

Sejarah Pembantaian Tanoh Gayo, Alas, dan Batak

Written By Unknown on 13 Des 2013 | 05.59

Pembantaian Tanah Gayo, Alas, dan Batak dilakukan oleh KNIL di bawah pimpinan G.C.E. van Daalen pada tahun 1904 selama Perang Aceh.

Latar belakang

Sejarah Pembantaian Tanoh Gayo, Alas, dan Batak
Markas Pasukan di Kuta Lintang
Pada bulan Desember 1903, Pemerintah Tanah Gayo, Alas, dan Batak mengadakan lawatan dinas dari Teluk Aru dan Salahaji ke Kuala Simpang untuk menyelidiki beberapa sengketa yang timbul antara Kejurun Karang, wilayah utama Tamiang, yang berbatasan langsung dengan permukiman Gayo, yang terletak di Krueng Tamiang. Meskipun sudah diketahui sebelumnya banyak orang Gayo - terutama dari Gayo Lues, Serbejadi, dan Linge - turun ke Tamiang untuk menjual hasil hutan dan ternaknya dan mereka sendiri perlu membeli barang impor, kunjungan itu benar-benar menunjukkan bahwa kontak penduduk asli dengan pemerintahan Hindia-Belanda jauh lebih besar ketika pegawai Belanda tidak mencatat semua kontak dengan urusan dalam suku-suku independen itu secara sistematis. Bahkan setelah pemerintah menetapkan bahwa Tanah Gayo dan Alas sudah dipertimbangkan masuk pemerintahan Aceh dan jajahannya dan harus menjadi bawahannya, tidak perlu bergantung kepada Tamiang, hingga datangnya pemerintahan militer dan sipil di Aceh dan Sumatera Timur - yang berunding satu sama lain - menunggu penambahan subdivisi Tamiang ke Aceh, pemerintahan sementara dirancang.

Seorang perwira garnisun Kuala Simpang dibebani tugas mengurusi masalah Gayo, di saat yang sama difasilitasi dengan peleton bergerak. Dengan kunjungan ini, pemerintah Tanah Gayo dan Alas bertemu dengan banyak orang Gayo dan juga dengan Kejurun Petiambang, yang antara lain melaporkan bahwa di Gayo-Lues sudah diberi penjelasan atas rencana perjalanan ke sana dan terdapat pihak penentang, yang jalan masuk paling utama ke daerah itu - Intem Intem, jalan di Pendeng dan Susoh - sudah berada dalam keadaan bertahan dari pasukan Belanda yang sedang bergerak maju, seperti yang harus dihadapi di Intem Intem pada tahun 1902. Di kejurun diberitahukan bahwa itulah yang dimaksud, perjalanan dilaksanakan dengan dukungan angkatan pasukan dan pasukan itu tidak kembali lagi, namun di mata orang Gayo pasukan Belanda tidak dapat menjangkau daerah pegunungan. Di saat yang sama pasukan diperintahkan kembali dan para pimpinannya melaporkan ke konvoi komandan bahwa pasukan musuh akan segera tiba.

Meskipun dengan sambutan itu kejurun tidak mengadakan perlawanan, ia - yang takut kepada pihak-pihak yang bermusuhan di wilayahnya - tidak bertolak dan seperti yang dapat diketahui pergi ke daerahnya bersama dengan pasukan Belanda. Dalam hubungannya dengan rencana yang ada mengenai pandangan atas Tanah Gayo-Lues dan Alas, konvoi juga dianggap penting, sehingga konvoi itu diberangkatkan yang berisi anggota garnisun dari Kuala Simpang, menuju daerah yang pernah dikunjungi Belanda dan Pendeng yang bergolak atas 2 alasan: penaklukan wilayah itu dan meratakan jalan bagi evakuasi orang yang terluka dan sakit di Gayo Lues. Oleh karena itu diputuskan bahwa pemerintah sipil dan militer memerintahkan penguasa Tanah Gayo dan Alas (yang ke arah merekalah konvoi diarahkan) untuk merancang instruksi untuk komandan pasukan yang disebutkan tadi dari Kuala Simpang; setelah instruksi ini disetujui oleh komandan militer Sumatera Timur, konvoi Tamiang ditarik ke Pedeng untuk mencapai sasaran dalam waktu yang mencukupi untuk mengantisipasi tugas berikutnya.

Angkatan dan Susunan Ekspedisi

Barisan Maréchaussée yang melakukan ekspedisi ke Tanah Gayo dan Alas tersusun sebagai berikut: komandan barisan adalah GCE. van Daalen, letnan kolonel staf jenderal; ajudannya adalah letnan artileri I JCJ. Kempees; sisanya 1 divisi maréchaussée, di bawah pimpinan Kapiten W.B.J.A. Scheepens dari 10 brigade, dipecah dalam 2 divisi, masing-masing dari 2 bagian, masing-masing dipimpin seorang letnan; 1 ambulans di bawah perwira kesehatan kelas II HM. Neeb; 1 departemen sensor di bawah LetTu Hoedt; kereta (penarik) 110 mandor dan pekerja paksa; disertai oleh Ir. Jansen dengan beberapa personel untuk mengumpulkan data geologis dan seorang mantri dari 's Lands Plantentuin te Buitenzorg (sekarang Kebun Raya Bogor) untuk mengumpulkan data botani. Saat mendarat di Ulee Lheue pada tanggal 8 Februari, kekuatan mencapai 10 perwira, 1 insinyur pertambangan, 13 bintara Eropa, 1 perawat prajurit Eropa, 208 anggota maréchaussée dari Ambon dan pribumi; kemudian personel KA, 473 mandor, pekerja paksa dan sekitar 15 kuli, penunjuk jalan dan karyawannya; seluruhnya 721 orang.

Tujuan:

Sejarah Pembantaian Tanoh Gayo, Alas, dan Batak
Rumah Sakit lapangan di Lawe Sagu
Perintah komandan barisan berkaitan dengan tujuan operasi tersebut terutama mengadakan penyelidikan ke daerah Raja Cik Bebesen di Raja Buket dan Kejurun Syiah Utama, yang di sana susunan pemerintahan yang diperlukan dirancang, melanjutkan perundingan atas kemungkinan pembangunan jalan kereta antara Danau Laut Tawar ke Peusangan dan jalur pertama untuk jalan itu diperpanjang. Di samping itu, tujuannya adalah untuk mengunjungi dan bila diperlukan juga berpatroli di wilayah Raja Linggo, mencoba berhubungan dengan tetua dan kemungkinan juga merancang aturan yang diperlukan di wilayah ini.

Mereka harus maju ke Gayo-Lues; di wilayah ini merebak perlawanan dari semua kepala desa (Reje, Cik, dan Muda); kemungkinan juga tetua-tetua desa yang lebih kecil yang bersama dengan induk maupun cabangnya akan berontak; sehingga, terutama di kampung inti Reje Petiabang, tetua terpilih tersebut (kemungkinan termasuk penghulu Si Sue Belas) bersama-sama mengumumkan bahwa Kejurun Beden disahkan oleh pemerintah sebagai Kejurun Petiambang di Gayo-Lues, yang juga dianggap pemerintah Hindia-Belanda sebagai kepala wilayah atas seluruh daerah dan keinginan kuat dari pemerintah adalah mengakhiri pemisahan kekuasaan dan pertempuran yang terjadi serta penghentian sukarela dan penentuan terakhir kejurun saat itu harus dilakukan. Hal itu juga memungkinkan Gayo-Lues mengadakan meronda sebagian besar wilayahnya yang berpenghuni, merancang susunan pemerintahan secara lebih lanjut, mencari hubungan kepada barisan yang sudah ditarik dari Kuala Simpang ke Pendeng; memberikan perintah terhadap komandan barisan serta informasi yang diberikan dan petunjuk kepada perwira yang bertanggung jawab atas urusan administrasi di bagian timur laut Reje Petiambang; strategi di wilayah Kejurun Abaq sepenuhnya bertumpu pada pandangan dan kebijakan LetKol. Van Daalen.

Lebih jauh memasuki Tanah Alas pasukan Belanda disambut perlawanan, banyak informasi yang dikumpulkan mengenai struktur pemerintahan dan administrasi serta pengaturan lainnya jika diperlukan ataupun diinginkan. Apakah memindahkan permusuhan dari Tanah Alas ke Tanah Batak yang berdekatan, atau karena urusan politik ataupun lainnya yang diperlukan Tanah Batak untuk mencapai pantai, itulah akhir dari barisan komandan yang tunduk pada persetujuan pemerintahan yang berwenang. Di samping itu, jika mungkin nasihat khusus akan menguntungkan pencarian di Singkil atas keberadaan orang Tionghoa dan penduduk non-pribumi lainnya, yang menurut pesan tersebut akan memperbaiki senjata api dan diperdagangkan di sana atas nama ketua bende Aceh seperti Teuku Ben Blang Pidie, dan juga yang dilakukan penduduk Tanah Alas dan Gayo atas senjata api dan amunisi.

Ekspedisi (8 Februari-23 Juli 1904)

Sejarah Pembantaian Tanoh Gayo, Alas, dan Batak
Sarkofagus di Temorong
Pada tanggal 8 Februari pasukan dikapalkan dan mendarat di Lhokseumawe keesokan harinya, lalu semua penumpangnya berbaris menaiki trem ke Bireuen dan menempuh perjalanan selama 4 jam, setelah itu berbaris ke bivak Teupin Blang Mane dan tiba pukul setengah tujuh. Di hari berikutnya mereka berbaris kembali, pada tanggal 18 Februari melewati beberapa ngarai dan di tengah hari mereka tiba di Tunjang yang berada pada ketinggian 900 m dan bivak dipindahkan ke Kampung Pertek; penduduk tidak menunjukkan sikap bermusuhan, beberapa penduduk yang sakit diperiksa oleh petugas kesehatan dan pada tanggal 14 Februari ekspedisi dilanjutkan. Antara tanggal 16-20 Februari bivak dipindahkan ke Kong, dan waktu tersebut dimanfaatkan oleh komandan barisan untuk mengumpulkan para tetua, mengadakan pembahasan dan menyusun ketetapan pemerintahan di wilayah Laut dan meronda lebih lanjut daerah tersebut. Antara tanggal 22-28 Februari, dibangun bivak di Kuta Rayang dan di sini dirancanglah rencana pemerintahan.

Selama ekspedisi berikutnya, mereka kehilangan arah dan harus menaiki batang pohon yang tinggi untuk menentukan arah yang benar. Di samping itu, barisan tersebut harus menghadapi medan tak rata yang berat dan ngarai yang curam sehingga harus mendaki dinding gunung menggunakan tangan dan kaki, sementara batang dan akar menjadi pegangan arah. Berulang kali mereka harus menghindari aliran sungai yang deras (20-30 kali sehari). Pada tanggal 9 Maret, mereka mencapai Kela, esoknya mereka berbaris ke Rerebe, dan menghadapi perlawanan pertama di sini. Musuh kehilangan 3 orang dan satu-satunya yang terluka dapat dihalau dan sebagian dikejar, dan bivak dipindahkan ke kampung tersebut hingga tanggal 13 Maret. Setelah wilayah tersebut dibersihkan oleh patroli itu, banyak anggota yang tewas, dan besoknya perjalanan dibagi dalam 2 kelompok; kesatuan yang berjumlah 16 orang dipimpin menuju Pasir; kesatuan di bawah pimpinan Let. Winter, Hans Christoffel dan Kempees beranggotakan 14 orang dan dipimpin melintas sepanjang Krueng Tripa, Paser setelah menghadapi perlawanan berat sementara musuh juga banyak yang dibantai; pada tanggal 18 Maret, pasukan tersebut berjalan ke Gemuyang dan Peparik Gaib; setelah perlawanan sebuah keluarga yang fanatik tersebut yang di dalamnya banyak pula wanita yang turut perang akhirnya jatuh juga; dari sini juga banyak jatuh korban dari pihak musuh dengan korban sebanyak 308 orang, di antaranya 168 orang laki-laki, 92 orang wanita dan 48 orang anak-anak. Sedangkan yang luka-luka sebanyak 47 orang, di antaranya seorang pria, 26 orang wanita dan 20 orang anak-anak. Hanya 12 orang yang tertangkap hidup-hidup, terdiri atas 3 orang wanita dan 9 orang anak-anak.

Di saat yang sama perlawanan masih berlanjut: Belanda terus-terusan memborbardir perkampungan di wilayah bergunung-gunung tersebut; dari laporan yang datang diketahui bahwa penduduk yang dibakar semangatnya oleh ulama sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran sengit itu. Pada tanggal 22 Maret, sebuah perkampungan yang luas ditaklukkan setelah pertempuran yang lama dan sengit; Durin, Kuta Lintang, Reje Silo dan Kuta Blang telah ditaklukkan Belanda; di sini banyak pula korban yang berjatuhan dari pihak musuh. Kini Kuta Lintang akan dijadikan bivak permanen, sebagai pusat kampung-kampung sekitarnya yang mungkin masih bergolak. Lalu barisan tersebut menuju ke daerah tersebut hingga tanggal 4 Juni, ketika usulan ekspedisi ke Tanah Alas disetujui. Selama masa tersebut, kampung-kampung ini jatuh: Badak (4 April), Cane Uken dan Tungel (21 April), Penosan (11 Mei), dan Tampeng (18 Mei); setiap hari diadakan ronda dan penyergapan malam hari juga banyak membunuh musuh. Setelah jatuhnya Tampeng, perlawanan di Gayo Lues dapat dipatahkan, dan para tetua suku memenuhi panggilan komandan barisan pada tanggal 2 Juni. Dalam pertemuan resmi itu, Belanda mengumumkan bahwa mereka harus menaati pihaknya. Program tersebut berakhir, dan pada tanggal 4 Juni, ekspedisi menuju Tanah Alas dijalankan.

Sejarah Pembantaian Tanoh Gayo, Alas, dan Batak
Overste Van Daalen mengumpulkan semua tetua Gayo-Lues.
Di hari berikutnya, barisan tersebut melanjutkan perjalanan. Pada tanggal 10 Juni, penduduk yang melawan di kampung N. Tualang dihalau dan dikejar hingga Penampaan, lalu bivak dipindahkan. Besoknya, mereka memasuki bagian tengah Tanah Alas, yang sebagian diperkuat namun sudah ditinggalkan oleh penduduk sehingga Kampung Lawe Sagu diduduki dan tetap di sana hingga tanggal 16 Juni; tak hana oleh pemborbardiran dan ronda yang terus-menerus ke wilayah tersebut, namun laporan yang masuk juga mengatakan bahwa penduduk Tanah Alas, yakni Kejuron Bambel, bukan Batu Mbulan, telah mempersiapkan diri menghadapi serangan itu, dan dibakar semangatnya oleh sejumlah alim ulama. Pada tanggal 14 Juni, dengan dikuasainya benteng Kuta Rih setelah perlawanan yang amat berat. Tindakan keras dilakukan dengan membunuh juga 189 orang wanita, dan 59 orang anak-anak. Yang luka-luka sebanyak 51 orang, antaranya 25 orang wanita dan 31 orang anak-anak, yang tertangkap hidup-hidup dua orang wanita dan 61 orang anak-anak.

Kampung Bambel yang berada di atas Krueng Singkil dijadikan bivak; dari tempat itu, berturut-turut kubu di Likat dan Kute Lengat Baru jatuh pada tanggal 20 dan 24 Juni setelah perlawanan berat. Dalam pertempuran di Likat, pasukan Belanda membantai tanpa pandang bulu, sehingga 432 orang mati terbunuh, di antaranya 220 pria, 124 wanita, dan 88 orang anak-anak. Yang luka-luka berat dan ringan sebanyak 51 orang, di antaranya 2 orang pria, 17 orang wanita dan 32 orang anak--anak, yang tertangkap hidup-hidup hanya anak-anak sebanyak 7 orang. Dengan jatuhnya kubu pertahanan tersebut, perlawanan di Krueng Bambel dipatahkan, sementara Kejuron Batu Mbulan - di mana terdapat 2 kubu, Batu Mbulan dan Tanjung yang telah ditinggalkan tepat pada waktunya - tetap tenang dengan pimpinan Berakan, putera Reje Mbulan, tanpa sikap permusuhan apapun. Pada tanggal 29 Juni, tetua Bambel dan Batu Mbulan muncul bersama rombongannya, yang setelah itu ditahan oleh komandan barisan.

Seusai menyelesaikan tugas di Tanah Alas, Van Daalen meneruskan perjalanan ke Tanah Karo pada tanggal 1 Juli, dan mencapai Tanah Pakpak. Di hari berikutnya barisan tersebut meneruskan perjalanan dan melakukan penyerbuan, selanjutnya tiada lagi perlawanan. Pada tengah hari tanggal 20 Juli ekspedisi tersebut berakhir di Sibolga setelah perjalanan panjang. Esoknya pasukan tersebut berlayar menaiki kapal uap Albatros dan Gier dan tiba pada tengah hari tanggal 23 Juli di Ulee Lheue, dan disambut oleh Gubernur Aceh dan Jajahannya bersama pejabat lainnya.

Sumber: Wikipedia
Van Daalen GCE. 1902. Journaal van de commandant der marechaussees colonne ter achtervolging van de pretendent-sultan in de Gajolanden. Lampiran ekstra Indisch Militair Tijdschrift. Seri I. Hal. 31-86.
Kempees JCJ. 1905. De tocht van overste van Daalen door de Gajo-, Alas- en Bataklanden van 8 februari tot 23 juli 1904. Amsterdam: J.C. Dalmeijer.
1905. Verslag van de tocht naar de Gajo- en Alaslanden in de maanden februari tot en met juli 1904 onder luitenant-kolonel van de generale staf G.C.E. van Daalen. Met 4 kaarten en 17 bijlagen. Lampiran ekstra Indisch Militair Tijdschrift no. 14.
1905. Geneeskundig rapport betreffende de excursie naar de Gajo- en Alaslanden onder luitenant-kolonel G.C.E. van Daalen. Lampiran ekstra Indisch Militair Tijdschrift no. 15.

Grand Launching PMW Coffe-Terimakasih Kepada Seluruh Pihak yang Telah Membantu

Written By Unknown on 10 Des 2013 | 08.53

Ruangan seluas 4x4 meter ini terasa sesak saking ramainya mahasiswa serta tamu lain yang datang menikmati kopi disini. 6 pasang meja dengan masing-masing 4 kursi tidak cukup menampung belasan orang yang mengantri. PMW Coffee tertulis berwarna merah diatas sebuah neon box yang terpajang diteras cafe yang tepat berada diruas Jalan depan RSU Datu Beru Takengon, sangat strategis mengingat biaya sewa yang lumayan mahal. Rp.10.000.000 menurut penuturan Andi Rahman, salah satu pencetus pembuatan cafe ini.


"Biaya Sewanya 10 juta untuk setahun," tuturnya.

Pembuatan cafe ini sempat tertunda selama 2 bulan pasca pencairan dana dari Departemen Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, lembaga yang meluluskan proposal mereka dalam Program Mahasiswa Wirausaha setelah melalui beberapa proses panjang mulai dari Diterimanya undangan keikutsertaan untuk Universitas Gajah Putih, Couching pembuatan proposal, seleksi proposal serta proses panjang pencairan dana.

"Kami sempat menunggu 2 bulan sebelum dipanggil untuk pengumuman kelulusan proposalnya, ditambah 1 bulan sebelum pencairan dan akhirnya cafe kecil ini dibuka" tambahnya disela-sela obrolan panjang dengan penulis.

Menikmati Kopi di Teras Depan PMW Coffee
Saat ini pukul 17.38 wib, semakin sore semakin ramai yang datang berkunjung, dilihat dari semakin banyaknya sepeda motor terparkir didepan cafe berwarna cat orange ini. Kebanyakan tamu berasal dari Kampus Gajah Putih Takengon dilihat dari setelah jas almamater dan sandangan tas dibahu mereka, sisanya masyarakat sekitar dan beberapa aktifis yang kebetulan lewat didepan ruas jalan yang langsung menuju danau Luttawar tersebut.
Selain Andi Rahman, ada 4 mahasiswa lagi yang turut serta dalam program ini yaitu Feriyanto, Hendrika Fauzi, Dedi Rahman, Ariza Saputra, masing-masing mereka berasal jurusan berbeda dalam Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon.

Total dana yang mereka peroleh adalah senilai 40 juta rupiah menurut penuturan mereka.

 "Secara keseluruhan telah terpakai untuk pembelian peralatan cafe diantaranya 6 pasang meja, 1 unit mesin coffe-maker dengan merk "Merol", 1 meja bartender sedang, sewa ruko dan pembenahan disana-sini." Kata Andi

Diakhir perbincangan mereka tidak lupa menitipkan rasa terimakasih kepada banyak pihak yang telah membantu hingga terbentuknya cafe ini, harapan mereka semoga cafe bisa terus eksis dan dapat menjadi tempat diskusi bagi rekan-rekan aktifis mahasiswa, pelajar dan juga masyarakat sekitar dapat merasa nyaman dengan keberadaan cafe ini.

"Terimakasih kepada Gajah Putih karena telah mendidik kami menjadi mahasiswa mandiri, Kepada Bapak Rektor, dan terutama kepada PR.III Bidang Kemahasiswaan Bapak Amiruddin serta seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu." Tutupnya (zen)

BNPB dan Depsos Pusat Salurkan Bantuan Dana untuk Warga Desa Badak Uken

Written By Unknown on 9 Des 2013 | 07.29

Dabun Gelang – LintasGayo.co: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Departemen Sosial Pusat melalui BPBD Gayo Lues salurkan bantuan dana kepada 147 kepala keluarga di Desa Badak Uken, Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues sebanyak 25 juta per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk biaya pembangunan rumah akibat warga yang harus mengungsi akibat lahan perumahan warga yang retak.
Kepala BPBD Gayo Lues, Hasan Salam T, SH kepada LintasGayo.co Senin (09/12/2013) siang mengungkapkan, sebelumnya.
Sejumlah perangkat dan Tokoh Adat Badak Uken telah menyampaikan keluhannya kepada pemerintah daerah pada bulan desember 2012 lalu, namun baru tahun ini dana tersebut bisa disalurkan atas usulan BPBD dengan BPBN pusat.
Luttawar.com
Kepala BPBD Gayo Lues saat berada dilokasi pembangunan rumah bantuan (Ist)
“ Bupati Gayo Lues juga mengajak seluruh Muspida untuk menyelesaikan permasalahan warga di Desa Badak Uken. Sebab, dikawatirkan Desa Badak Uken rawan longsor karena lokasi wilayahnya yang cukup berbahaya. Sebab perumahan penduduk warga Desa Badak Uken dikelilinggi oleh pegunungan, dan salah satu pegunungan yang retak persis terdapat di atas pemukiman penduduk, sehingga ditakutkan jika tanah tersebut longsor, pemukiman penduduk akan ikut tertimbun tanah ”, terang Hasan Salam.
Hingga saat ini, pembangunan rumah bantuan untuk warga Desa Badak Uken sudah mencapai 45 persen, kita akan berusaha pembangunan ini selesai secepatnya agar dapat dihuni warga, tambah Hasan Salam. (Supri Ariu)

Aman Kuba Coffee, Eksis Sejak Tahun 1958

Written By Unknown on 8 Des 2013 | 08.36

Malam menjelang ketika saya, Ijo dan Azir berkesempatan berkunjung ke salah satu pabrik kopi terbesar di Takengon. Berkebetulan gerai kopi ini buka malam ini karena proses roasting(sangrai) belum selesai. Dilayani dengan begitu ramah oleh seorang gadis manis berperawakan sedang membuat kami yang awalnya canggung jadi merasa nyaman. Elly, begitu Azir dan Ijo biasa memanggilnya, gadis 24 tahun ini terlihat ceria saat menawarkan suguhan kopi produknya kepada kami.

Luttawar.com
Sejak Tahun 1958
" Minum kopi apa ni ? " Sambutnya sambil bercanda, karena kami tahu gerai ini disediakan hanya siang hari yang secara otomatis mesin espresso telah dirapikan dan tidak dipakai pada malam hari. Dan setelah berbasa-basi mengenai kopi apa yang mau diminum, tersajilah dua cangkir arabika classic dimeja bundar didepan kami. Cukuplah untuk menghilangkan dahaga saya karena seharian belum minum kopi sehat, karena ternyata kopi ini pas sekali rasanya dengan lidah saya. Mata langsung melek tanpa rasa sakit diperut.


Luttawar.com
Aman Kuba Coffee awalnya adalah sebuah industri rumahan yang terbilang kecil ditakengon, awalnya pada kurun waktu 1958 memulai usaha dengan mengumpulkan bahan baku antara 25 sampai 50 bambu kopi gelondong. Hingga awal tahun 2007 Aman Quba Coffee mulai menyangrai dengan peralatan yang terbilang sederhana namun cukup bergengsi untuk ukuran sebuah perusahaan kopi dikota dingin Takengon. Usaha dari perusahaan ini kian berkembang dan bertambahlah peralatan milik perusahaan keluarga Fa. H. Aman Quba ini, itulah sebabnya nama perusahaan ini menjadi Aman Kuba Coffee.

Setelah sedikit berbasa-basi Elly kembali menawarkan lagi secangkir kopi yang sama, kebetulan cangkir saya sudah kosong saya "ia"kan saja penawaran kopi gratis ini. Karena biasanya untuk meminum kopi seenak ini, lebih tepatnya "senikmat" ini saya harus merogoh kocek 10 ribu rupiah sekali minum. Azir yang duduk disamping saya cuma mesem-mesem karena kopi dicangkirnya masih tersisa setengahnya.

" Awal tahun ini kita sudah akan membuka sebuah cafe di Banda Aceh, " kata Elly melanjutkan ceritanya.

Luttawar.com
Cup Test Ala Azir
Cafe yang khusus menyediakan kopi dari Perusahaan Aman Kuba Coffee itu, menurut Ely tepat berada disamping Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

" Kita punya sebuah ruko disamping mesjid Baiturrahman, jadi Insya Allah awal tahun ini sudah buka. Selain itu dari cafe-cafe lain juga sudah minta produk kita untuk dijual ditempat mereka. " tutup Elly sambil tersenyum bangga.

Selain Elly, kami juga tersenyum karena saat pamit pulang saya dan Azir diberi hadiah masing-masing 1 kemasan Kopi siap sedu produk Aman Kuba Coffee. Terimakasih Elly

(08 Desember 2013 /Zen)

Mak Rahmi Diantara Puing Harapan Gempa

Senyuman lembut menyapa saat pertama kali bertemu wanita ini. Dalam tenda berukuran 2 x 5 meter yang tepat berada di depan kerangka rumahnya yang terkena akibat gempa 02 Juli lalu ia dan anak-anaknya sekarang bernaung.

Rumah bantuan bagi korban konflik yang diberikan BRR dua tahun lalu kini hanya meninggalkan beberapa dinding dan tiang yang tak lagi berdiri tegak, sebahagian malah telah tergeletak memenuhi tanah di sekitarnya.
Melihat langit yang menghitam mak Rahmi, panggilan akrab ibu beranak 4 ini menjadi khawatir, kalau-kalau tenda mereka akan digenangi air. 

“ Semoga tidak hujan ”, pengharapan sederhananya setiap hari.

Luttawar.com
Mak Rahmi bersama anaknya Hairana Fisa (8 thn)
dalam tenda pengungsian (foto: Valent)
Kasur usang dan beberapa selimut bantuan terlipat rapi di ujung tenda, beralaskan terpal mereka mencoba mencari kenyamanan. Kardus-kardus berisikan bahan pangan dan juga peralatan dapur seadanya tersusun di pojok pintu. Untuk masak, mak Rahmi menggunakan kayu di samping tendanya. Untungnya air bersih masih mengalir dari sumur bor miliknya, meskipun untuk mandi mereka harus menumpang kerumah tetangga. 

Kondisi kesehatannya yang semakin memburuk pasca gempa membuat ia sering kali harus berobat ke bidan desa. Untung saja bidan kampung berbaik hati melihat kondisi mak Rahmi, sehingga memberikan pengobatan gratis, walaupun dengan keterbatasan medis dan bantuan obat yang dimilikinya namun itu lebih dari cukup bagi mak Rahmi. Karena semenjak sakit, ia tak lagi dapat bekerja untuk menyortir kopi apalagi mencuci dan menggosok. 

Mak Rahmi sangat berharap bisa mendapatkan bantuan modal usaha, sehingga ia tidak perlu lagi bekerja kasar dan membuka usaha dirumah. 

“ Kaki kiri saya sering terasa sakit, saya juga sering mengalami pendarahan ”, mak Rahmi mengaku mengalami gejala itu bila ia mulai merasa stres. Jika sudah begitu, ia hanya memilih untuk berbobat ke bidan dan beristirahat. 

Mak Rahmi yang memiliki nama asli Syamsunah ini memiliki 4 orang anak. Anak pertamanya Rahmi, setelah menikah ikut bersama suaminya, tinggal tiga anaknya yang masih menjadi tanggungjawabnya.  Mukale Wantara yang berumur 17 tahun merupakan anak laki-laki satu-satunya yang turut membantu nafkah keluarga, mengalami kecelakaan dua hari setelah gempa. Sedangkan kedua adik perempuannya yang masih bersekolah  Apraha Zaru, 10 tahun dan Hairana Fisa, 8 tahun, terlihat masih ceria meski harus tidur di tenda yang dingin.
Luttawar.com
Puing-puing rumah Mak Rahmi
yang masih berdiri dikampung Paya Serngi (Foto:Valent)

Sejak hari pertama gempa, mak Rahmi merasa hidupnya semakin sulit karena sakit yang ia derita mak Rahmi memilih menumpang kerumah adiknya di Desa Pinangan, Kecamatan Kebayakan. Namun ternyata, hal itu membuat ia tidak mendapatkan bantuan baik dari rumahnya di kampung Paya Serngi maupun Pinangan. Sedangkan untuk tetap tinggal di rumah, mak Rahmi tidak memiliki tenda. Setelah beberapa kali menyampaikan keluhannya kepada Gecik, barulah mak Rahmi menerima bantuan tenda, beras dan selimut.

Saat ini, mak Rahmi hanya berharap dari bantuan yang datang tak menentu untuk menyambung hidupnya yang renta dan saki-sakitan. Untunglah tetangga-tetangganya masih sering mengulurkan bantuan makanan, terutama saat berbuka puasa.

Ramadhan kali ini memang terasa sangat berat bagi perempuan berumur 43 tahun ini. Hatinya sangat miris ketika anaknya meminta dimasakkan daging saat megang lalu.  Ia mencoba memberikan pengertian kepada anak bungsunya. Apalagi sebentar lagi lebaran, ia bahkan tak mampu memikirkannya.(valent)

Bantuan Raskin Untuk Orang Kaya

Written By Unknown on 6 Des 2013 | 09.21

*Sasaran Nasional Baru Capai 20 Persen
Takengon-LintasGayo.co : Informasi dari Kementrian Sosial RI terkait program bantuan beras miskin (RASKIN) hingga tahun 2013 belum optimal dilaksanakan karena tidak tepat sasaran. Prihal itu terungkap pada saat berlangsungnya rapat koordinasi antara kementrian terkait, Forum Bolog RI dan pertamina dengan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dari seluruh daerah di Indonesia, belum lama ini di Jakarta.
Riswandi Yoga utusan PSM wilayah Aceh usai mengikuti acara tersebut  setibanya Di Takengon, Selasa (2/12/13) kepada wartawan media ini mengatakan salah satu penyebab terjadinya penyaluran bantuan RASKIN yang tidak tepat sasaran adalah kurangnmya sosialisasi terhadap pentingnya program RASKIN bagi masyarakat lemah, khususnya pada pemerintahan lepel bawah.
Luttawar.com
Ilustrasi Foto: www.luwuraya.com
Contohnya, sebut Riswandi masih banyak di desa-desa atau kampung dalam menyalurkan RASKIN berdasarkan musyawarah ditingkat kampung, sehingga ada diputuskan bahwa pemberian bantuan RASKIN dibagi secara merata tanpa mengenal status ekonomi masyarakat setempat. Hal ini tidak benar karena dalam penyaluran beras bersubsidi itu diperuntukan bagi masyarakat miskin sesuai juklak dan juknisnya.
Dikatakan Riswandi, pemerintah pusat dalam rangka meningkatkan status ekonomi masyarakat lemah telah mengucurkan banyak program” kalaulah program tersebut dipadukan untuk meningkatkan warga ekonomi miskin di desa-desa, maka sudah lama statusnya dapat ditingkatkan” kata Riswandi, menambahkan bantuan BLSM juga salah satunya.
Disebutkan Riswandi, program untuk mengingkatkan ststus masyarakat ekonomi lemah merupakan program dari instansi pemerintah yang terpadu termasuk bantuan yang diambil dari infaq maupun sadaqah masyarakat Indonesia dan sumbangan pihak luar.
“Nah kalaulah mereka (red: warga) yang mendapat bantuan RASKIN atau BLSM merupakan masyarakat tergolong mampu maka boleh dikatakan bantuan “ haram” hukumnya bila dimakan oleh masyarakat yang ekonominya memadai (orang kaya)” jelas Riswandi Yoga. (Rahman)

Empat "Uluni Tari" Di Gayo Lut Menurut M. Jusin Saleh

Takengon-LintasGayo.co : Tari asli Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah atau disebut Gayo Lut itu pada dasarnya ada 4 macam dengan dasar penciptaan tersendiri sesuai dengan keadaan tertentu dalam hidup masyarakat Gayo. Demikian diterangkan tokoh seni Gayo, M. Jusin Saleh di Takengon, Kamis 5 Desember 2013.
Luttawar.com
M. Jusin Saleh (Foto:Lintasgayo.co)
Keempat tari yang disebut sebagai “Ulu ni Tari” (dasar tari) tersebut diantaranya tari Seneng, tari Turun Ku Lut, tari Cincang Nangka dan tari Guru Didong. Selanjutnya dijelaskan M Jusin Saleh, tari Seneng dilakukan pada mulanya saat mendirikan rumah yang ditarikan satu orang saja.
“Penari Seneng menari di atas ampang dan diatas tiang rumah sebelum di beri dinding dan atap. Tari ini butuh keahlian menyeimbangkan badan karena berbahaya,” kata M Jusin. Jika ingin tanya bagaimana menarikannya tanya ke Arifin Banta Cut, kerabat kejurun Syiah Utama, dia sempat menyaksikan tari tersebut. Timpal M Jusin.
Dalam perkembangannya, tari Seneng dilakukan saat acara kebesaran kerajaan atau pemerintahan. Filosofinya, segala kegiatan yang diprogramkan disiapkan lebih dahulu segala sesuatunya. “Tari Seneng pertanda sesuatu program sudah layak untuk dimulai, Asal muasal tari ini adalah tari Ni Wo,” terang M Jusin.
Selanjutnya tari Turun Ku Lut, menurutnya adalah tari yang dilakukan saat mengevaluasi atau menilai kebijakan seorang Raja dalam memimpin selama 1 tahun.
Dalam hal ini, tarian diiringi dengan pembacaan penilaian oleh para Sagi Pendari (satu orang tokoh masyarakat di satu Kampung yang memilih raja) tentang apa keluhan masyarakatnya selama 1 tahun.
Proses tari Turun Ku Lut biasanya diakhiri dengan memandikan raja ke sungai atau ke danau Lut Tawar pertanda kesalahan yang terdahulu sudah diakui sang raja dan memulai kembali pemerintahannya dengan menampung aspirasi yang disampaikan Sagi Pendari.
Ditanya kenapa Sagi Pendari yang menyampaikan koreksi kepada Raja, M Jusin menegaskan karena sang Raja dipilih Sagi Pendari. “Raja di Gayo tidak dipilih oleh Raja yang berkuasa, namun oleh Sagi Pendari,” kata dia.
Contoh kasus ini pernah terjadi di Kerajaan Bukit menjelang kemerdekaan RI. Saat itu mestinya Reje Maun yang berkuasa, namun karena usianya masih sangat muda akhirnya Sagi Pendari memilih Reje Ilang sebagai Reje Bukit hingga proklamasi kemerdekaan RI.
Tari Gayo selanjutnya adalah tari Cincang Nangka. Tarian ini perlambang keadaan sedang kacau, negeri sedang ada masalah. Dan terakhir, tari Guru Didong yang biasanya dilakukan sebagai tarian pembuka acara bergembira. “Tari Guel, termasuk dalam kategori tari Guru Didong,” kata M Jusin.

Gerakan tari Guel tidak cocok menyambut tamu

Gerakan tari Guel sangat tidak cocok ditarikan untuk menyambutan tamu. Demikian ditegaskan M Jusin Saleh. Pasalnya, dasar adanya tari Guel adalah ekspresi seni saat menaklukkan Gajah Putih, seekor hewan dalam sejarahnya akan diberikan oleh Reje Linge kepada Raja Aceh.
“Bagaimana bisa, tari menaklukkan hewan dilakukan untuk menyambut tamu, terlebih seorang pejabat sekelas presiden,” ujar M Yusin. Dia meminta agar segera dilakukan upaya-upaya menggali kembali tari-tari Gayo agar lestari, bukan saja dari gerakan dan iringan musik, namun juga filosofinya agar tidak salah penempatan.
“Penjelasan saya ini menurut hasil penelusuran dan pengkajian saya pribadi serta diskusi dengan berbagai pihak selama bertahun-tahun. Saya siap berdiskusi membahas adat, seni dan budaya Gayo,” kata M Jusin Saleh yang mengaku sedang menyiapkan sejumlah buku tentang adat dan budaya Gayo. (Kha A Zaghlul)

Tgk. H. Drs. Mahmud Ibrahim-S2 Di Usia Senja

Written By Unknown on 5 Des 2013 | 07.23

Luttawar.com
Foto: Ist.
Takengon | Luttawar.com: Dalam usia yang telah mencapai 84 tahun, tokoh ulama, birokrat dan juga sejarawan dari Tanoh Gayo, Aceh Tengah Tgk. H. Drs. Mahmud Ibrahim pada hari Kamis tanggal 30 Mei 2013 yang lalu berhasil menyelesaikan dan meraih gelar Master of Arts (MA) setelah dinyatakan LULUS dalam sidang munaqasyah tesis dihadapan dewan penguji dari  Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dengan judul tesisnya Nilai-nilai Pendidikan dalam Adat Istiadat Gayo dihadapan para dewan penguji yang diketuai oleh Prof. Dr. Rusydi Ali Muhammad, SH. Anggota: Dr Gunawan Agam, MA. Phd, Dr Chairuddin, MAg, Dr Sri Suryanta, MAg, Prof. Dr. Alyasa Abubakar, MA dan Syamsul Bahri, M.Tsol selaku sekretaris dewan penguji, tokoh masyarakat Gayo yang juga Kepala Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘sulit’ dari para dewan pengujinya yang rata-rata guru besar.

Yang berkesan dari ‘prosesi’ sidang munaqasyah tesis-nya Tgk. Mahmud Ibrahim, menurut Kakankemenag Aceh Tengah Drs.H.Hamdan yang juga pada hari yang sama juga ‘didaulat‘ lulus S2-nya, adalah bahwa ketua dewan pengujinya Profesor Rusydi merupakan putra dari almarhum Ali Muhammad yang juga merupakan penguji sidang munaqasyah skripsi-nya Drs.H.Mahmud Ibrahim waktu meraih gelar doctorandes (Drs)-nya di IAIN Ar-Raniry puluhan tahun yang lalu.

“Kalau dulu waktu sidang skripsi adalah Drs Ali Muhammad sebagi ketua dewan penguji-nya, dan kali ini saat sidang tesis yang menjadi ketua dewan penguji putra-nya yaitu Profesor Rusydi Ali Muhmmad”, ujar Tgk. Mahmud sebagaimana kata Haji Hamdan via HP selanjunya dia menambahkan: “Keberhasilan Tgk.H.Drs. Mahmud Ibrahim, MA meraik gelar S2 di usia senja menurut saya sungguh menjadi motivasi bagi yang muda-muda, terutama bagi masyarakat Aceh Tengah”, ujar Hamdan."

Selain Tgk. Mahmud Ibrahim, putra Aceh Tengah yang dalam penghujung Mei itu juga berhasil menyelesaikan program S.2-nya melalui sidang munaqasyah tesis adalah Drs. H. Hamdan, MA dan Wahdi MS, S.Ag, MA. “Dalam waktu dekat teman-teman yang lain dari Aceh Tengah yang bersama-sama kami mengikuti program S2 pasca sarjana IAIN Ar-Raniry dari Aceh Tengah juga akan menyusul”, tuturnya.

Dari informasi yang diperoleh bahwa sidang munaqasyah putra-putra lumbung kopi itu berjalan lancar. Drs H Hamdan, MA dengan judul tesis-nya Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Aliyah dan Implikasinya Terhadap Kinerja Guru Se-Kabupaten Aceh Tengah. Dewan penguji dalam sidang Munaqasyah adalah: Prof. Dr. M Nasir Budiman, MA selaku ketua dengan sekretarisnya Syamsul Bahri, M.Tsol. Anggota dewan penguji: Prof. Dr. Jamaluddin Idris, M.Pd, Dr Chairan M Nur, M.Ag, Asnah
Husein, MA. Phd dan Dr. Sri Suryanta, MAg.

Sedangkan Wahdi MS, S.Ag, MA. Judul Tesis Implementasi Teknologi Informasi dalam Pembelajaran Aqidah Akhlaq Anak MTsN 1 Takengon. Dewan Penguji, Ketua: Prof. Dr. Rusydi Ali Muhammad, SH Sekretaris: Dr Mujibburrahman, MA , Anggota: Dr Syarwan Ahmad, M.Lis, Chairan M Nur, MAg, Prof. Dr. Nasir Budiman, MA dan Eka Sri Mulyani, MA Phd.

Sumber : Kabargayo  - Kamis, 06 Juni 2013

Abu Moese Azhari (AR-Moese)

Luttawar.com
Foto: Ist
Takengon | Luttawar.com: Abu Moese Azhari atau lebih kita kenal dengan nama AR Moese (lahir di Kota Takengon, Aceh, 29 Mei 1940–wafat di Belang Mersa, Takengon, 26 Agustus 2007 pada umur 67 tahun) adalah seorang tokoh musik legendaris Gayo, Takengon, Aceh. Abu Moese Azhari adalah seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan jabatan terakhir Kasi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah,AR. Moese sempat mendirikan kursus musik di Aceh Tengah.

Aktivitas kursus sempat vakum belasan tahun, namun belakangan dibuka kembali dengan murid yang terbatas. Dedikasi Moese terhadap dunia pendidikan musik tidak pernah diragukan. Hingga akhir hayatnya, Moese masih menyempatkan diri membimbing siswa-siswa SD di rumahnya. Tiga murid sebuah SD pernah datang ke rumah sakit menjenguk Moese sambil membawa piala hasil kemenangan mereka dalam lomba di Banda Aceh.

" Moese memang memiliki banyak murid dari generasi ke generasi. Tiga murid SD pembawa piala tadi memanggil Moese dengan sebutan kakek. Sementara generasi diatasnya memanggil sang komponis sebagai “Pakcik.”

Memimpin dan melatih banyak tim kesenian dari Aceh Tengah dalam berbagai event kesenian sekala regional maupun nasional. Serangkaian –karya-karya moese, baik dalam bentuk karya gubahan maupun karya orisinal – merupakan sumbangan penting terhadap khasanah kesenian Gayo dalam bidang seni musik dan vokal.
Moese pertama sekali menciptakan lagu berjudul “Renggali” pada 1954. Lagu ini demikian populernya, sampai-sampai dibawakan oleh penari Seudati Kontingen Aceh pada Pekan Kebudayaan III.

Pendidikan

Pendidikan musik modern ini diperolehnya dari Sekolah Musik di Yogyakarta, pada periode tahun 1958-1961 dan dari jurusan Seni Musik IKIP Rawamangun Jakarta.

Seni Musik

AR Moese adalah orang yang berada di balik pencapaian kemajuan seni musik di Gayo, Aceh Tengah. Melalui kemampuannya yang luar biasa, Moese menggubah sastra didong menjadi karya musik modern dengan tetap mempertahankan kekayaan melodi Gayo. Berkat “sentuhan tangan” Moese lah, hingga karya-karya seni didong - jenis kesenian tradisional yang menyampaikan puisi-puisi Gayo dengan cara mendendangkannya dalam iringan tepukan tangan dan kanvas ukuran kecil sebagai rythem,bisa dimainkan dalam format musik modern.

Karier

" Karya-karya gubahan tersebut diatas antara lain Perueren, Jempung (Cipt Ceh Daman), Tampok Pinang (Ceh Sali Gobal), Pegasing (Ceh Lakiki), Takengen (Arika ), Batil, Tingkis, Geremukunah , Lut Tenelen (Ibhrahim Kadir) dan lain-lain. "

Selain melahirkan karya gubahan, Moese juga melahirkan serangkaian karya orisinal yang sampai sekarang masih tetap dihafal dengan baik oleh generasi penerus musik di Gayo, seperti; Tangke Nate, Garipo, Lane, Merbuk (bersama Sebi), Macik, Renem Jejem (khusus lagu ini pernah menjadi lima besar dalam lomba Paduan Suara Tingkat Nasional, di Jakarta 1995), Kesume Gayo, Semah Sujud, Macik, Reriyep, Tawar Sedenge, Payung Kertas, Jejari , Mars dan Hymne Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon dan lagu/mars untuk seluruh Fakultas di lingkungan UGP.
Luttawar.com
Foto : Ist
Kemampuan Moese tersebut dimungkinkan karena selain menguasai benar melodi Gayo, ia juga menguasai musik klasik. Pendidikan musik modern ini diperolehnya dari Sekolah Musik di Yogyakarta, pada periode tahun 1958-1961 dan dari jurusan Seni Musik IKIP Rawamangun Jakarta, pada periode tahun 1982-1986, serta ditunjang pula pengalaman Moese saat bergabung dengan kelompok orkestra pimpinan Idris Sardi pada awal tahun 70-an yang pada zaman itu acap tampil di TVRI mengiringi penyanyi-penyanyi Indonesia.

Sumber terkait : Wikipedia

Terjadi Penembakan Dikomplek Universitas Gajah Putih Takengon

Written By Unknown on 29 Nov 2013 | 07.55


Takengon|Luttawar.com: Jum'at (29/11) sekitar pukul 15.00 wib bertempat di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Putih Takengon, Pegasing telah terjadi penembakan terhadap salah satu mahasiswa Reje Pardian Musampe, 23 tahun, berasal dari Kampung Ronga-ronga, Kabupaten Bener Meriah. Berdasarkan informasi dari Koramil pegasing, Takengon. Senjata yang digunakan pelaku adalah jenis senjata AirSoftgun.

Kronologi Kejadian

luttawar.com
Ilustrasi Pistol Airsoftgun (Foto : Istimewa)
Sekitar pukul 15.00 dua orang tak dikenal memasuki komplek kampus Universitas Gajah Putih Takengon menggunakan sepmor jenis V-Xion warna putih hitam, plat BK dengan nopol tidak diketahui . Keduanya menggunakan jaket warna hitam, salah satu dari tersangka turun dari sepeda motor dan langsung menembak korban sebanyak 9x menggunakan senjata ringan jenis airsoftgun kemudian langsung melarikan diri, melihat kejadian tersebut beberapa mahasiswa yang kebetulan berada dilokasi kejadian langsung membawa korban ke Puskesmas Pegasing. 

Hasil pemeriksaan Dokter puskesmas pegasing ditemukan luka tembakan di beberapa bagian tubuh korban : 1.Kepala sebelah kiri 1 x, 2.Pegelangan tangan 2 x (atas-bawah), 3. Dada sebelah kiri 1 x (peluru masi lengket), 4.Paha sebelah kanan bagian belakang 5 x, Dan di temukan juga 1 proyektil peluru airsoftgun di lipatan celana, setelah luka tembakan di bersihkan selanjutnya korban di larikan ke RSUD Datu Beru takengon untuk perawatan lebih lanjut. Sementara 2 proyektil peluru air tersebut telah di amankan di Mapolsek Pegasing, Aceh Tengah.
Sampai berita ini diturunkan korban masih dirawat di Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon, sementara indentitas pelaku belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan aparat Polisi setempat.(ist)

Sepenggal Cerita Pacuan Kuda Gayo

Written By Unknown on 28 Nov 2013 | 21.46

Takengon | Luttawar.com : Pacuan kuda merupakan salah satu upacara budaya akbar yang ada di Takengon, Aceh Tengah. Biasanya acara ini diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia maupun pada acara-acara besar lainnya, seperti peringatan hari Sumpah Pemuda bertepatan pada 28 Oktober 2013 lalu. Pacuan kuda tradisional untuk Provinsi Aceh dilaksanakan pada tiga kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Event sakral ini menjadi ajang silaturrahmi para pecinta kuda di Gayo. 

Adapun kategori kuda yang biasa diperlombakan saat ini, diantaranya :
  1. Super untuk tinggi kuda > 140 cm 
  2. Biasa untuk tinggi kuda 135-140 cm 
  3. Untuk tinggi kuda 130-135 cm 
  4. Untuk tinggi kuda 125-130 cm 
  5. Untuk tinggi kuda < 125 cm
Luttawar.com
Menyoraki Kuda Jagoannya Dari atas Pagar " Rentan kecelakaan " (foto : Valent)

Masing-masing kategori kemudian dibagi lagi dalam kelas kuda tua yang akan dipacu per 2 kali putaran sedangkan kategori kuda muda untuk 1 kali putaran pada lapangan pacu. Kuda yang memiliki tinggi diatas 135 cm biasanya kuda yang berasal dari luar Aceh; Padang misalnya, sedangkan kuda dari gayo sendiri cenderung lebih pendek dan peranakan berukuran sedang.

Pacuan kuda di Gayo tidak hanya sekedar sebuah pertandingan semata, namun lebih dari itu. Ini menyangkut hobi dan gengsi pemilik kuda. Karena itu hadiah bukan jadi patokan utama, meskipun untuk perawatannya kuda bisa menghabiskan biaya hingga Rp. 500.000,00 tiap bulannya. 

SEJARAH PACUAN KUDA
Luttawar.com
Kiri : Irwandi (pemilik kuda lokal), Kanan : Perawat Kuda dan mantan joki,
bersama kuda lokal ditunggangi Joki (foto:Valent)

Bercerita tentang pacuan kuda, ternyata keberadaannya tak lepas dari peran pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya acara ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu belanda Willhelmina pada tahun 1926 dan terus diadakan setiap tahunnya oleh Belanda. Namun setelah merdeka, momentum pacuan kuda kemudian beralih menjadi pesta rakyat sebagai bentuk suka cita rakyat Gayo atas kemerdekaan Republik Indonesia.

Kuda-kuda yang sehari-hari digunakan sebagai pembajak sawah kali ini turun kelapangan. Ditunggangi Joki yang biasanya anak-anak berumur 8 sampai dengan 15 tahun, tanpa menggunakan pelana dengan pemukul kuda yang terbuat dari rotan. Dahulu sekali perlombaan ini dibagi menjadi tiga kategori, mulai dari Kuda Muda untuk usia 5 tahun ke bawah, Kuda Dewasa umur 5 sampai 7 tahun dan Kuda Tua 8 sampai 10 tahun. 

Dulunya pacuan kuda dilakukan dalam wilayah desa tanpa jalur pacu yang jelas, seiring dengan berkembangnya daerah kemudian beralih ke lapangan Musara Alun di Belang Kolak II hingga akhirnya pada tahun 2006 dipindahkan ke lapangan Belang Bebangka di Kayu Kul hingga sekarang masih diselenggarakan ditempat ini. Perhelatan ini rata-rata berlangsung selama seminggu, awalnya diadakan hanya satu tahun namun semenjak tahun 2011 event yang menjadi pekan rakyat ini menjadi dua kali setahun. Pesta Budaya ini bukan hanya sangat diminati masyarakat gayo sampai saat ini, melainkan juga mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia dan kabar keberadaannya sudah meluas ke Manca Negara.

Sayangnya, saat ini keberadaan Kuda lokal semakin tersingkir dengan datangnya kuda luar dengan postur lebih besar yang mencuri minat para pecinta kuda Gayo. Hal yang paling dikhawatirkan oleh para pemilik dan penikmat kuda lokal adalah, pada masa yang akan datang kuda lokal tidak lagi mampu bersaing atau bahkan tidak ikut berpacu dalam turnamen lagi. Bahkan sangat mungkin punah oleh perkembangan zaman karena tidak diminati lagi.
***
Luttawar.com
Kuda Lokal dengan Postur Tubuh Rata-rata 125 cm (foto : Valent)

Dalam perkembangannya, event ini terus dibenahi mulai dari peraturan, kategori, lapangan dan kelengkapan lainnya. Pacuan kuda ini tidak hanya diadakan di Kabupaten Aceh Tengah, tapi juga di Kabupaten Bener Meriah dan juga Kabupaten Gayo Lues. 

Para pemilik dan perawat kuda yang sempat kami temui berharap semoga tradisi ini dapat terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya di dataran tinggi Gayo. Dengan perbaikan dan perkembangan yang tidak menggeser nilai-nilai tradisi perayaan tersebut. (VN)

Pesona Kolam Biru Negeri Seribu Bukit

Pesona Kolam Biru
(foto koleksi Fauraria Valentine)
Gayo Lues-Luttawar.com: Airnya berwarna biru tenang. Di atasnya air terjun yang mengalir dari celah-celah bebatuan, pepohonan nan hijau pun  memenuhi sekelilingnya, menambah indahnya tempat ini. Sesekali terdengar kicauan burung liar, seakan ingin turut serta memeriahkan suasana.
Kolam biru, seperti itulah masyarakat menyebutnya, sebuah telaga yang terletak di kampung Rerebe Kecamatan Tripe Jaya, 45 kilometer dari pusat kota Blang Kejeren. Keunikan warna telaga inilah yang mampu menghipnotis minat para pengunjung baik lokal maupun internasional untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga atau teman didaerah berhawa sejuk ini.
Meskipun begitu keberadaan tempat ini masih alami dan belum dikelola secara baik, hanya pada waktu-waktu libur saja kita dapat menemukan pedagang menjual makanan kecil diseputaran kolam. Pada hari biasa kolam biru akan terlihat sepi, hanya beberapa petani yang lewat untuk berangkat atau pulang dari kebun mereka.
Negeri seribu bukit memang memiliki banyak sekali tempat wisata alami yang dapat dikunjungi, hanya saja mungkin belum diketahui secara luas, kolam biru salah satunya.(VN)

Di Gayo Lues Ada Seminar Linge dan Pemecahan Rekor MURI Saman

Written By Unknown on 26 Nov 2013 | 06.51

Ibnu Hasyim saat menerima perwakilan inisiator
pembentukan Dewan Adat Gayo. (LGco | Darmawan Masri)
Blangkejeren-LintasGayo.co : Upaya pemertahanan adat budaya Gayo oleh Pemerintah Kabupaten Gayo Lues patut diacungi jempol.
Tahun 2014 nanti mereka telah memprogramkan perhelatan adat seni budaya Gayo yang dikemas dalam Seminar Linge yang dirangkai dengan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) menarikan Saman dengan jumlah personil terbanyak.
“Seiring dengan perayaan hari jadi Kabupaten Gayo Lues, disini akan digelar seminar Linge dan pemecahan rekor MURI tari Saman,” ujar Bupati Gayo kepada LintasGayo.co di rumah dinasnya, Senin 25 Nopember 2013.
Selain itu, kata dia, dalam kesempatan itu juga akan dilakukan resepsi pembentukan Dewan Adat Gayo yang telah digagas sebelumnya di Gayo Lut (Takengon-red).
“Kita akan mengganggarkan dana Rp. 1 Milyar untuk acara ini, namun kita tambah Rp. 1 Milyar lagi karena adanya penambahan kegiatan Dewan Adat Gayo. Ini demi marwah Gayo,” ujar Ibnu Hasyim. (Khalis)
 
Support : Creator Website | Muhammad Zaid Zuhdi | Bandung
Copyright © 2011. BLOGGER TAKENGON - All Rights Reserved
Redaksi Luttawar Menerima Kiriman Tulisan dan Foto dari Pembaca
Kirimkan Tulisan dan Foto Anda Via E-mail | redaksiluttawar[at]gmail.com |