Breaking News

Home » , » Membangun Aceh Dengan Ilmu Dan Kebersamaan

Membangun Aceh Dengan Ilmu Dan Kebersamaan

Written By Unknown on 29 Nov 2013 | 02.29

Luttawar.com
Mengunjungi perusahaan raksasa seperti Siemen mungkin sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kita yang awam. tentang bagaimana sebuah Perusahaan raksasa mengatur dan membina perusahaan mereka. Hari ini (28/11/13), saya dan teman-teman sekelas diberi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana proses pembuatan kincir angin raksasa yang dibuat oleh perusahaan Siemen tersebut. 

Pada dasarnya, Siemen mungkin terkenal dengan barang Elektronik, seperti Kulkas, Mesin cuci piring, Kompor dan lain-lain. Tapi tidak banyak yang tahu kalau Siemen juga membuat Kincir Angin. 

Di Denmark sudah tidak asing lagi kalau yang namanya kincir angin ini. Hal ini, dikarenakan di Denmark bukan Siemen saja yang bisa buat kincir angin raksasa ini. Perusahaan Vestas juga terkenal dengan kincir anginnya yang berkualitas sangat tinggi.

Tulisan ini bukanlah untuk mempromosikan Siemen atau untuk kebanggaan diri sendiri karena sudah bisa melihat perusahaan raksasa itu. Tetapi lebih sebagai studi banding dalam pembangunan yang semakin pesat di dunia modern. 

Perusahaan Siemen ini mempunyai 1.600 pekerja yang dipekerjakan secara bergilir dalam 4 bagian, ada yang masuk pagi, siang, malam dan weekend (akhir pekan:Red). Bisa dikatakan pabrik tersebut tak pernah berhenti untuk beroperasi. 

Hal ini karena banyaknya pesanan yang harus disiapkan, dan saya lihat sendiri betapa rumitnya cara pembuatan kincir angin raksasa itu. Kami tidak diizinkan untuk mengambil foto digedung itu. Jangankan digedung produksi, diruang informasi saja tidak diizinkan untuk mengambil foto. 

Saya sendiri tidak tahu kenapa, tapi saya rasa mereka mau melindungi hak paten produk mereka. Perusahaan Siemen yang berada di Aalborg (sebuah daerah di Denmark) ini adalah perusahaan terbesar di dunia dalam hal pembuatan kincir angin.

Walaupun perusahaan ini adalah milik German, tapi hak paten untuk pembuatan kincir angin tetap ada pada orang Denmark. Menurut keterangan orang yang menjadi Guide (Pemandu:Red) kami, satu buah kincir angin yang berkekuatan 2,3 MW (Milyon Watt), harganya mencapai 25 juta DKK (DANISH KRONE, mata uang Negara Denmark:Red), sekitar 54 Milyar Rupiah.

Luttawar.com
Berfoto Bersama Didepan Gedung Pabrik Perusahaan Siemen (Foto:Koleksi Pribadi)

Kincir angin ini bisa bertahan selama 20 tahun, setelah itu besar kemungkinan kipas kincir tersebut harus diganti. Anda bisa bayangkan, dengan kekuatan itu, berapa kampung di Aceh bisa diterangi oleh listrik dengan satu kincir angin saja. 

Kincir angin ini paling bagus diletakkan dilaut atau dipinggir laut, karena didaerah itu angin selalu konstan (berterusan).

Kincir angin yang berukuran besar adalah tipe B.30, 6MW (Milyon Watt) dan beratnya 23,5 ton. Tentu harganya juga lebih mahal dari yang lebih kecil, tapi kapasitas penggunaannya juga besar. 25% listrik di Denmark dihasilkan oleh kincir angin ini, maka bisa kita bayangkan berapa banyak kincir angin yang ada di bumi dan di laut Denmark. 

Dari sistem kerja, mereka begitu menarik. Dimana dalam menjalankan aktivitas kerjanya, mereka tidak kelihatan sibuk seperti yang saya bayangkan. Mereka bekerja sangat santai, hal ini disebabkan karena setiap orang sudah tahu tugas masing-masing dan paham apa yang harus dikerjakan. Perusahaan Siemen juga memiliki cabang di USA, Canada, China, Brazil dan akan membuka cabang baru di Negara India.

Tentu saja mereka menggunakan Lean, Value Stream Maps dan Fish Bone dalam mengerjakan setiap produksi mereka. Karena sistem yang tiga ini memang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Dan, kalau kita mau, sebenarnya sistem ini bisa kita tranfer dalam membangun sebuah negeri atau politik. 

Setelah saya pelajari ilmu ini hampir setahun, dan Insya Allah akan selesai dalam setahun-setengah lagi, maka saya teringat akan apa yang dilakukan oleh Jokowi dan Ahok. Mereka telah mentransfer ilmu dalam sebuah perusahaan (company) untuk membangun sebuah negeri. Mereka benar-benar menerapkan sistem Lean, value stream maps dan fish bone dalam kerja mereka sehari hari. 

Terus bagaimana dengan Aceh, apakah kita orang Aceh asing dengan Sistem Lean, Value Stream Maps dan fish Bone ini?
Jawabannya adalah TIDAK. Karena banyak orang Aceh yang telah lulus sekolah bisnis (ekonomi). Lainlah ceritanya kalau sekolah bisnis disana tidak diajarkan pelajaran Lean, Value Stream Maps dan Fish Bone ini. 

Saya sangat yakin Aceh bisa kita majukan seperti daerah-daerah lain yang telah maju, contoh Makassar ataupun seperti Kota Metropolitran lainnya. Persoalannya hanya pada kemauan, sebab kalau kemauan untuk membangun Negeri Aceh tidak ada, maka jangan bermimpi Aceh akan maju. 

Apa yang kita harapkan adalah, agar Pemerintah Aceh mengajak semua anak-anak Aceh yang punya skill/kemampuan di bidang masing-masing untuk bersama-sama membangun Aceh. Aceh tidak bisa kita bangun dengan Partai atau kelompok. Aceh hanya bisa kita bangun dengan ilmu dan kebersamaan. Kami harap tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita. Salam Damai

Johan Makmor Habib/Denmark
Share this article :
Komentar
0 Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creator Website | Muhammad Zaid Zuhdi | Bandung
Copyright © 2011. BLOGGER TAKENGON - All Rights Reserved
Redaksi Luttawar Menerima Kiriman Tulisan dan Foto dari Pembaca
Kirimkan Tulisan dan Foto Anda Via E-mail | redaksiluttawar[at]gmail.com |