Breaking News

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Mengapa Kartini, Bukan Cut Nyak Dien Atau Dewi Sartika ?

Written By Unknown on 26 Apr 2014 | 07.33

Oleh Tiar Anwar Bachtiar (* Insists UI

luttawar.com
Foto Ist
(www.voa-islam.comMengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).
Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.
Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia? 
Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.
Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.
Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.
Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.
Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

*Peneliti INSISTS dan Kandidat Doktor Sejarah, Universitas Indonesia

Mahasiswa Berwirausaha ! Kenapa Tidak

Written By Unknown on 10 Des 2013 | 09.35

Sebuah apresiasi yang sangat tinggi kepada Andi Rahman dan kawan-kawan untuk kerja kreatif dan semangat mereka. Bagaimana tidak, akhir tahun 2013 tepatnya 10 Desember ini mereka dengan semangat wirausahawan muda telah melaunching sebuah Cafe dijalan RSU. Datu Beru Takengon, tentunya sebuah prestasi yang sangat gemilang mengingat tidak banyak mahasiswa Gajah Putih Takengon yang berani menorehkan prestasi kedalam bingkai sejarah Universitas Gajah Putih seperti mereka.

Mahasiwa Berwirausaha ! Kenapa Tidak
Foto Ilustrasi: Kompas.com
Dalam kurun waktu sejak tahun 1984 hingga sekarang, telah banyak bukti tertuang terkait kemandirian Mahasiswa Gajah Putih Takengon, hanya tidak terbukukan dengan baik. Contoh paling dekat adalah Kerja Kreatif Hasrul dan kawan-kawan yang pada November lalu dengan dana seadanya bantuan Pemda Aceh Tengah berhasil membuat sebuah Demplot (Demonstrasi Plot) percontohan perkebunan Kopi di Kecamatan Atu Lintang, Takengon. Hasrul dan kawan-kawan serta Andi Rahman dan kawan-kawan adalah mahasiswa pertanian, lho kok mahasiswa pertanian buka usaha cafe, bukannya mahasiswa jurusan manajemen ?

Jawabannya sudah cukup jelas, siapapun boleh memulai usaha wirausaha. Kita tahu benar ilmu wirausaha telah banyak dibukukan, telah banyak ditulis para blogger didunia maya, telah banyak dikaji dalam seminar-seminar wirausaha diTakengon dan daerah lain.
Takengon sangat terkenal dengan Komoditi Kopinya yang mendunia, cukup banyak kerja kreatif terkait wirausaha yang bisa dimulai diTakengon, contoh kecil selain cafe tadi adalah usaha penggilingan kopi baik kopi gelondong, gabah, maupun greenbean yang telah disangrai. Atau contoh lain membuat penganan dengan rasa kopi, atau contoh lain lagi souvenir dengan tema "Kopi" seperti T-shirt, gantungan kunci dan lain-lain. Ingat bahwa produk kopi Gayo adalah Kopi nomer 1 didunia, prestasi ini tidak akan bertahan jika tidak kita pertahankan bersama. Termasuk Mahasiswa !
Zainal (Author at Luttawar.com)

Membangun Aceh Dengan Ilmu Dan Kebersamaan

Written By Unknown on 29 Nov 2013 | 02.29

Luttawar.com
Mengunjungi perusahaan raksasa seperti Siemen mungkin sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kita yang awam. tentang bagaimana sebuah Perusahaan raksasa mengatur dan membina perusahaan mereka. Hari ini (28/11/13), saya dan teman-teman sekelas diberi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana proses pembuatan kincir angin raksasa yang dibuat oleh perusahaan Siemen tersebut. 

Pada dasarnya, Siemen mungkin terkenal dengan barang Elektronik, seperti Kulkas, Mesin cuci piring, Kompor dan lain-lain. Tapi tidak banyak yang tahu kalau Siemen juga membuat Kincir Angin. 

Di Denmark sudah tidak asing lagi kalau yang namanya kincir angin ini. Hal ini, dikarenakan di Denmark bukan Siemen saja yang bisa buat kincir angin raksasa ini. Perusahaan Vestas juga terkenal dengan kincir anginnya yang berkualitas sangat tinggi.

Tulisan ini bukanlah untuk mempromosikan Siemen atau untuk kebanggaan diri sendiri karena sudah bisa melihat perusahaan raksasa itu. Tetapi lebih sebagai studi banding dalam pembangunan yang semakin pesat di dunia modern. 

Perusahaan Siemen ini mempunyai 1.600 pekerja yang dipekerjakan secara bergilir dalam 4 bagian, ada yang masuk pagi, siang, malam dan weekend (akhir pekan:Red). Bisa dikatakan pabrik tersebut tak pernah berhenti untuk beroperasi. 

Hal ini karena banyaknya pesanan yang harus disiapkan, dan saya lihat sendiri betapa rumitnya cara pembuatan kincir angin raksasa itu. Kami tidak diizinkan untuk mengambil foto digedung itu. Jangankan digedung produksi, diruang informasi saja tidak diizinkan untuk mengambil foto. 

Saya sendiri tidak tahu kenapa, tapi saya rasa mereka mau melindungi hak paten produk mereka. Perusahaan Siemen yang berada di Aalborg (sebuah daerah di Denmark) ini adalah perusahaan terbesar di dunia dalam hal pembuatan kincir angin.

Walaupun perusahaan ini adalah milik German, tapi hak paten untuk pembuatan kincir angin tetap ada pada orang Denmark. Menurut keterangan orang yang menjadi Guide (Pemandu:Red) kami, satu buah kincir angin yang berkekuatan 2,3 MW (Milyon Watt), harganya mencapai 25 juta DKK (DANISH KRONE, mata uang Negara Denmark:Red), sekitar 54 Milyar Rupiah.

Luttawar.com
Berfoto Bersama Didepan Gedung Pabrik Perusahaan Siemen (Foto:Koleksi Pribadi)

Kincir angin ini bisa bertahan selama 20 tahun, setelah itu besar kemungkinan kipas kincir tersebut harus diganti. Anda bisa bayangkan, dengan kekuatan itu, berapa kampung di Aceh bisa diterangi oleh listrik dengan satu kincir angin saja. 

Kincir angin ini paling bagus diletakkan dilaut atau dipinggir laut, karena didaerah itu angin selalu konstan (berterusan).

Kincir angin yang berukuran besar adalah tipe B.30, 6MW (Milyon Watt) dan beratnya 23,5 ton. Tentu harganya juga lebih mahal dari yang lebih kecil, tapi kapasitas penggunaannya juga besar. 25% listrik di Denmark dihasilkan oleh kincir angin ini, maka bisa kita bayangkan berapa banyak kincir angin yang ada di bumi dan di laut Denmark. 

Dari sistem kerja, mereka begitu menarik. Dimana dalam menjalankan aktivitas kerjanya, mereka tidak kelihatan sibuk seperti yang saya bayangkan. Mereka bekerja sangat santai, hal ini disebabkan karena setiap orang sudah tahu tugas masing-masing dan paham apa yang harus dikerjakan. Perusahaan Siemen juga memiliki cabang di USA, Canada, China, Brazil dan akan membuka cabang baru di Negara India.

Tentu saja mereka menggunakan Lean, Value Stream Maps dan Fish Bone dalam mengerjakan setiap produksi mereka. Karena sistem yang tiga ini memang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Dan, kalau kita mau, sebenarnya sistem ini bisa kita tranfer dalam membangun sebuah negeri atau politik. 

Setelah saya pelajari ilmu ini hampir setahun, dan Insya Allah akan selesai dalam setahun-setengah lagi, maka saya teringat akan apa yang dilakukan oleh Jokowi dan Ahok. Mereka telah mentransfer ilmu dalam sebuah perusahaan (company) untuk membangun sebuah negeri. Mereka benar-benar menerapkan sistem Lean, value stream maps dan fish bone dalam kerja mereka sehari hari. 

Terus bagaimana dengan Aceh, apakah kita orang Aceh asing dengan Sistem Lean, Value Stream Maps dan fish Bone ini?
Jawabannya adalah TIDAK. Karena banyak orang Aceh yang telah lulus sekolah bisnis (ekonomi). Lainlah ceritanya kalau sekolah bisnis disana tidak diajarkan pelajaran Lean, Value Stream Maps dan Fish Bone ini. 

Saya sangat yakin Aceh bisa kita majukan seperti daerah-daerah lain yang telah maju, contoh Makassar ataupun seperti Kota Metropolitran lainnya. Persoalannya hanya pada kemauan, sebab kalau kemauan untuk membangun Negeri Aceh tidak ada, maka jangan bermimpi Aceh akan maju. 

Apa yang kita harapkan adalah, agar Pemerintah Aceh mengajak semua anak-anak Aceh yang punya skill/kemampuan di bidang masing-masing untuk bersama-sama membangun Aceh. Aceh tidak bisa kita bangun dengan Partai atau kelompok. Aceh hanya bisa kita bangun dengan ilmu dan kebersamaan. Kami harap tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita. Salam Damai

Johan Makmor Habib/Denmark
 
Support : Creator Website | Muhammad Zaid Zuhdi | Bandung
Copyright © 2011. BLOGGER TAKENGON - All Rights Reserved
Redaksi Luttawar Menerima Kiriman Tulisan dan Foto dari Pembaca
Kirimkan Tulisan dan Foto Anda Via E-mail | redaksiluttawar[at]gmail.com |