Breaking News

Terbaru

Puisi: Cintamu Untukku dan Bensu

Written By Unknown on 11 Des 2013 | 08.08

Anna FD
Lambaian sayup daun kopi
seolah bersorak memberimu semangat

Cintamu untukku dan bensu
Apakah harus ku buat lautan air mata
Agar seluruh alam mengerti,
aku menyesal telah mengecewakanmu


Sorot mata polos bensu
membuat aku terbangun dari angkuhku
Entah siapa yang harus aku salahkan
Entah siapa yang harus aku tuntut
Entah apa yang harus aku lakukan

Atu belah, atu bertangkup
Nge sawah janyi nte dahulu

Ineee,
Sebaris janjimu mengakhiri semuanya
Batu itu diam.!!
Batu itu membawamu dan semua rasa kecewamu
Batu itu diam.!!!
Batu itu merebutmu dari kami.

Ine,.
Jeritan bensu tak mampu menghentikan langkahmu,
Ranting tajam menggores kakimu
Kau berlari memenuhi janji di musim kemarau ituuu.,

Haruskah aku membuat lautan air mata,
Agar seluruh alam tahu
Aku menyesal, menyianyiakan cintamu.,

Anna FD.

Mahasiswa Berwirausaha ! Kenapa Tidak

Written By Unknown on 10 Des 2013 | 09.35

Sebuah apresiasi yang sangat tinggi kepada Andi Rahman dan kawan-kawan untuk kerja kreatif dan semangat mereka. Bagaimana tidak, akhir tahun 2013 tepatnya 10 Desember ini mereka dengan semangat wirausahawan muda telah melaunching sebuah Cafe dijalan RSU. Datu Beru Takengon, tentunya sebuah prestasi yang sangat gemilang mengingat tidak banyak mahasiswa Gajah Putih Takengon yang berani menorehkan prestasi kedalam bingkai sejarah Universitas Gajah Putih seperti mereka.

Mahasiwa Berwirausaha ! Kenapa Tidak
Foto Ilustrasi: Kompas.com
Dalam kurun waktu sejak tahun 1984 hingga sekarang, telah banyak bukti tertuang terkait kemandirian Mahasiswa Gajah Putih Takengon, hanya tidak terbukukan dengan baik. Contoh paling dekat adalah Kerja Kreatif Hasrul dan kawan-kawan yang pada November lalu dengan dana seadanya bantuan Pemda Aceh Tengah berhasil membuat sebuah Demplot (Demonstrasi Plot) percontohan perkebunan Kopi di Kecamatan Atu Lintang, Takengon. Hasrul dan kawan-kawan serta Andi Rahman dan kawan-kawan adalah mahasiswa pertanian, lho kok mahasiswa pertanian buka usaha cafe, bukannya mahasiswa jurusan manajemen ?

Jawabannya sudah cukup jelas, siapapun boleh memulai usaha wirausaha. Kita tahu benar ilmu wirausaha telah banyak dibukukan, telah banyak ditulis para blogger didunia maya, telah banyak dikaji dalam seminar-seminar wirausaha diTakengon dan daerah lain.
Takengon sangat terkenal dengan Komoditi Kopinya yang mendunia, cukup banyak kerja kreatif terkait wirausaha yang bisa dimulai diTakengon, contoh kecil selain cafe tadi adalah usaha penggilingan kopi baik kopi gelondong, gabah, maupun greenbean yang telah disangrai. Atau contoh lain membuat penganan dengan rasa kopi, atau contoh lain lagi souvenir dengan tema "Kopi" seperti T-shirt, gantungan kunci dan lain-lain. Ingat bahwa produk kopi Gayo adalah Kopi nomer 1 didunia, prestasi ini tidak akan bertahan jika tidak kita pertahankan bersama. Termasuk Mahasiswa !
Zainal (Author at Luttawar.com)

Grand Launching PMW Coffe-Terimakasih Kepada Seluruh Pihak yang Telah Membantu

Ruangan seluas 4x4 meter ini terasa sesak saking ramainya mahasiswa serta tamu lain yang datang menikmati kopi disini. 6 pasang meja dengan masing-masing 4 kursi tidak cukup menampung belasan orang yang mengantri. PMW Coffee tertulis berwarna merah diatas sebuah neon box yang terpajang diteras cafe yang tepat berada diruas Jalan depan RSU Datu Beru Takengon, sangat strategis mengingat biaya sewa yang lumayan mahal. Rp.10.000.000 menurut penuturan Andi Rahman, salah satu pencetus pembuatan cafe ini.


"Biaya Sewanya 10 juta untuk setahun," tuturnya.

Pembuatan cafe ini sempat tertunda selama 2 bulan pasca pencairan dana dari Departemen Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, lembaga yang meluluskan proposal mereka dalam Program Mahasiswa Wirausaha setelah melalui beberapa proses panjang mulai dari Diterimanya undangan keikutsertaan untuk Universitas Gajah Putih, Couching pembuatan proposal, seleksi proposal serta proses panjang pencairan dana.

"Kami sempat menunggu 2 bulan sebelum dipanggil untuk pengumuman kelulusan proposalnya, ditambah 1 bulan sebelum pencairan dan akhirnya cafe kecil ini dibuka" tambahnya disela-sela obrolan panjang dengan penulis.

Menikmati Kopi di Teras Depan PMW Coffee
Saat ini pukul 17.38 wib, semakin sore semakin ramai yang datang berkunjung, dilihat dari semakin banyaknya sepeda motor terparkir didepan cafe berwarna cat orange ini. Kebanyakan tamu berasal dari Kampus Gajah Putih Takengon dilihat dari setelah jas almamater dan sandangan tas dibahu mereka, sisanya masyarakat sekitar dan beberapa aktifis yang kebetulan lewat didepan ruas jalan yang langsung menuju danau Luttawar tersebut.
Selain Andi Rahman, ada 4 mahasiswa lagi yang turut serta dalam program ini yaitu Feriyanto, Hendrika Fauzi, Dedi Rahman, Ariza Saputra, masing-masing mereka berasal jurusan berbeda dalam Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon.

Total dana yang mereka peroleh adalah senilai 40 juta rupiah menurut penuturan mereka.

 "Secara keseluruhan telah terpakai untuk pembelian peralatan cafe diantaranya 6 pasang meja, 1 unit mesin coffe-maker dengan merk "Merol", 1 meja bartender sedang, sewa ruko dan pembenahan disana-sini." Kata Andi

Diakhir perbincangan mereka tidak lupa menitipkan rasa terimakasih kepada banyak pihak yang telah membantu hingga terbentuknya cafe ini, harapan mereka semoga cafe bisa terus eksis dan dapat menjadi tempat diskusi bagi rekan-rekan aktifis mahasiswa, pelajar dan juga masyarakat sekitar dapat merasa nyaman dengan keberadaan cafe ini.

"Terimakasih kepada Gajah Putih karena telah mendidik kami menjadi mahasiswa mandiri, Kepada Bapak Rektor, dan terutama kepada PR.III Bidang Kemahasiswaan Bapak Amiruddin serta seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu." Tutupnya (zen)

Perkemi Aceh Tengah Juara Umum Pra Pora Kempo Aceh

Written By Unknown on 9 Des 2013 | 07.50

Sigli – LintasGayo.co: Persaudaraan Kempo Indonesia (Perkemi) Aceh Tengah keluar sebagai juara umum diajang Pra Pekan Olahraga Aceh (Pra Pora) Cabang Olahraga (Cabor) Kempo, yang berlangsung di Sigli, Kabupaten Pidie, kata pelatih Kempo Aceh Tengah, Edi Syahputra, Senin (9/12/2013) dinihari tadi.
luttawar.com
Atlit Kempo Aceh Tengah
saat akan berangkat mengikuti Pra Pora
di Kabupaten Pidie (Irwan Fauzi | LintasGayo.co)
Keberhasilan Cabor Kempo ini, lanjut Edi sapaan akrab guru SMAN 4 Takengon ini, setelah membukukan medali terbanyak dari Kabupaten lain di Aceh, sejak berlangsungnya pertandingan, mulai 4-8 Desember 2013, di Gor Alun-Alun Kota Sigli.
“Kita berhasil mengumpulkan, 5 medali emas, 6 perak dan 1 perunggu, dan akan pemenang tersebut berhak mengikuti Pora tahun 2014 di Kabupaten Aceh Timur”, ujarnya.
Dirincikan,  untuk peringkat kedua ajang tersebut diraih oleh Kabupaten Bireuen dengan 4 Emas, 3 Perak dan 3 Perunggu, sedangkan diperingkat ke-3, Kota Lhoksemauwe dengan 4 Emas, 3 perak dan 2 perunggu, sedangkan Kabupaten Gayo lainnya, Bener Meriah berada di tempat ke-5 dengan torehan 2 emas dan 2 perunggu. (Darmawan Masri)

10 Tim Ramaikan Liga Futsal PWI Aceh termasuk Tim Wartawan Gayo

Banda Aceh-LintasGayo.co: Sepuluh tim futsal dari organisasi pers dan perusahaan media di Aceh memastikan ikut turnamen futsal bertajuk “Liga Futsal PWI Aceh 2013” memperebutkan piala PWI Pusat, yang dilaksanakan 9 s/d 13 Desember 2013, di Diaz Futsal, Banda Aceh.
Turnamen yang memperebutkan total hadiah Rp.45 juta rupiah tersebut dilaksanakan Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Aceh, sebagai ajang silaturrahmi sekaligus untuk memantau atlet-atlet berbakat yang nantinya akan menjadi skuad PWI Aceh dalam menghadapi Porwanas 2016.
“Semoga kita bisa mendapatkan atlet yang baik untuk menghadapi Porwanas ke depan,” kata Imran Joni, Ketua SIWO PWI Aceh yang juga Ketua Panitia Pelaksana.
Ditambahkan Joni, kegiatan ini dapat terlaksana berkat dukungan Muslim Aiyub, anggota DPRA yang peduli dengan perkembangan olahraga di Aceh. “ Kami sangat berterimakasih dengan kepedulian Muslim Aiyub dengan perkembangan olahraga di Aceh, termasuk dengan PWI, ” katanya.
luttawar.com

Muslim sendiri mengaku akan terus memperhatikan perkembangan olahraga di Aceh, termasuk untuk PWI Aceh, mengingat organisasi wartawan ini mempunyai ajang Porwanas, yang selalu dipertandingkan tiga tahun sekali.
“ Saya bangga dengan keberhasilan PWI Aceh yang telah meraih tiga medali emas dalam dua kali keikutsertaannya di Porwanas, dari cabang catur. Namun saya berharap, cabang-cabang lainnya juga meraih medali, ” kata Muslim.
Untuk itu, tambahnya, pihaknya akan terus mensuport apapun yang dibutuhkan PWI Aceh, demi untuk peningkatan prestasi olahraga di kalangan wartawan. “Insya Allah saya akan mendukung PWI untuk meraih prestasi di ajang Porwanas,” katanya.
Ketua PWI Aceh, Tarmilin Usman mengharap ajang futsal ini tidak menjadi ajang keributan, meski untuk mengejar prestasi, namun harus tetap mengutamakan sportifitas dan silaturrahmi. “Kapan lagi wartawan se-Aceh bisa berkumpul seperti ini,” kata Tarmilin.
Saifuddin, Seksi Pertandingan pada turnamen ini mengatakan, ke sepuluh tim yang mengikuti turnamen ini antara lain, Tabloid Pos Aceh, Aliansi9 Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Harian Serambi Indonesia, Mingguan Media Nad, PWI Perwakilan Aceh Tengah/Bener Meriah, TVRI Aceh, RRI Banda Aceh, Aceh TV, Harian Waspada dan tuan rumah PWI Aceh.
“ Lima tim lainnya batal ikut karena keterbatasan waktu. Yakni SIWO PWI Sumut, PWI Perwakilan Aceh Timur, PWI Perwakilan Bireuen, PWI Perwakilan Aceh Utara dan Harian Analisa Medan, ” katanya.  (pr)

BNPB dan Depsos Pusat Salurkan Bantuan Dana untuk Warga Desa Badak Uken

Dabun Gelang – LintasGayo.co: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Departemen Sosial Pusat melalui BPBD Gayo Lues salurkan bantuan dana kepada 147 kepala keluarga di Desa Badak Uken, Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues sebanyak 25 juta per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk biaya pembangunan rumah akibat warga yang harus mengungsi akibat lahan perumahan warga yang retak.
Kepala BPBD Gayo Lues, Hasan Salam T, SH kepada LintasGayo.co Senin (09/12/2013) siang mengungkapkan, sebelumnya.
Sejumlah perangkat dan Tokoh Adat Badak Uken telah menyampaikan keluhannya kepada pemerintah daerah pada bulan desember 2012 lalu, namun baru tahun ini dana tersebut bisa disalurkan atas usulan BPBD dengan BPBN pusat.
Luttawar.com
Kepala BPBD Gayo Lues saat berada dilokasi pembangunan rumah bantuan (Ist)
“ Bupati Gayo Lues juga mengajak seluruh Muspida untuk menyelesaikan permasalahan warga di Desa Badak Uken. Sebab, dikawatirkan Desa Badak Uken rawan longsor karena lokasi wilayahnya yang cukup berbahaya. Sebab perumahan penduduk warga Desa Badak Uken dikelilinggi oleh pegunungan, dan salah satu pegunungan yang retak persis terdapat di atas pemukiman penduduk, sehingga ditakutkan jika tanah tersebut longsor, pemukiman penduduk akan ikut tertimbun tanah ”, terang Hasan Salam.
Hingga saat ini, pembangunan rumah bantuan untuk warga Desa Badak Uken sudah mencapai 45 persen, kita akan berusaha pembangunan ini selesai secepatnya agar dapat dihuni warga, tambah Hasan Salam. (Supri Ariu)

Aman Kuba Coffee, Eksis Sejak Tahun 1958

Written By Unknown on 8 Des 2013 | 08.36

Malam menjelang ketika saya, Ijo dan Azir berkesempatan berkunjung ke salah satu pabrik kopi terbesar di Takengon. Berkebetulan gerai kopi ini buka malam ini karena proses roasting(sangrai) belum selesai. Dilayani dengan begitu ramah oleh seorang gadis manis berperawakan sedang membuat kami yang awalnya canggung jadi merasa nyaman. Elly, begitu Azir dan Ijo biasa memanggilnya, gadis 24 tahun ini terlihat ceria saat menawarkan suguhan kopi produknya kepada kami.

Luttawar.com
Sejak Tahun 1958
" Minum kopi apa ni ? " Sambutnya sambil bercanda, karena kami tahu gerai ini disediakan hanya siang hari yang secara otomatis mesin espresso telah dirapikan dan tidak dipakai pada malam hari. Dan setelah berbasa-basi mengenai kopi apa yang mau diminum, tersajilah dua cangkir arabika classic dimeja bundar didepan kami. Cukuplah untuk menghilangkan dahaga saya karena seharian belum minum kopi sehat, karena ternyata kopi ini pas sekali rasanya dengan lidah saya. Mata langsung melek tanpa rasa sakit diperut.


Luttawar.com
Aman Kuba Coffee awalnya adalah sebuah industri rumahan yang terbilang kecil ditakengon, awalnya pada kurun waktu 1958 memulai usaha dengan mengumpulkan bahan baku antara 25 sampai 50 bambu kopi gelondong. Hingga awal tahun 2007 Aman Quba Coffee mulai menyangrai dengan peralatan yang terbilang sederhana namun cukup bergengsi untuk ukuran sebuah perusahaan kopi dikota dingin Takengon. Usaha dari perusahaan ini kian berkembang dan bertambahlah peralatan milik perusahaan keluarga Fa. H. Aman Quba ini, itulah sebabnya nama perusahaan ini menjadi Aman Kuba Coffee.

Setelah sedikit berbasa-basi Elly kembali menawarkan lagi secangkir kopi yang sama, kebetulan cangkir saya sudah kosong saya "ia"kan saja penawaran kopi gratis ini. Karena biasanya untuk meminum kopi seenak ini, lebih tepatnya "senikmat" ini saya harus merogoh kocek 10 ribu rupiah sekali minum. Azir yang duduk disamping saya cuma mesem-mesem karena kopi dicangkirnya masih tersisa setengahnya.

" Awal tahun ini kita sudah akan membuka sebuah cafe di Banda Aceh, " kata Elly melanjutkan ceritanya.

Luttawar.com
Cup Test Ala Azir
Cafe yang khusus menyediakan kopi dari Perusahaan Aman Kuba Coffee itu, menurut Ely tepat berada disamping Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

" Kita punya sebuah ruko disamping mesjid Baiturrahman, jadi Insya Allah awal tahun ini sudah buka. Selain itu dari cafe-cafe lain juga sudah minta produk kita untuk dijual ditempat mereka. " tutup Elly sambil tersenyum bangga.

Selain Elly, kami juga tersenyum karena saat pamit pulang saya dan Azir diberi hadiah masing-masing 1 kemasan Kopi siap sedu produk Aman Kuba Coffee. Terimakasih Elly

(08 Desember 2013 /Zen)

Mak Rahmi Diantara Puing Harapan Gempa

Senyuman lembut menyapa saat pertama kali bertemu wanita ini. Dalam tenda berukuran 2 x 5 meter yang tepat berada di depan kerangka rumahnya yang terkena akibat gempa 02 Juli lalu ia dan anak-anaknya sekarang bernaung.

Rumah bantuan bagi korban konflik yang diberikan BRR dua tahun lalu kini hanya meninggalkan beberapa dinding dan tiang yang tak lagi berdiri tegak, sebahagian malah telah tergeletak memenuhi tanah di sekitarnya.
Melihat langit yang menghitam mak Rahmi, panggilan akrab ibu beranak 4 ini menjadi khawatir, kalau-kalau tenda mereka akan digenangi air. 

“ Semoga tidak hujan ”, pengharapan sederhananya setiap hari.

Luttawar.com
Mak Rahmi bersama anaknya Hairana Fisa (8 thn)
dalam tenda pengungsian (foto: Valent)
Kasur usang dan beberapa selimut bantuan terlipat rapi di ujung tenda, beralaskan terpal mereka mencoba mencari kenyamanan. Kardus-kardus berisikan bahan pangan dan juga peralatan dapur seadanya tersusun di pojok pintu. Untuk masak, mak Rahmi menggunakan kayu di samping tendanya. Untungnya air bersih masih mengalir dari sumur bor miliknya, meskipun untuk mandi mereka harus menumpang kerumah tetangga. 

Kondisi kesehatannya yang semakin memburuk pasca gempa membuat ia sering kali harus berobat ke bidan desa. Untung saja bidan kampung berbaik hati melihat kondisi mak Rahmi, sehingga memberikan pengobatan gratis, walaupun dengan keterbatasan medis dan bantuan obat yang dimilikinya namun itu lebih dari cukup bagi mak Rahmi. Karena semenjak sakit, ia tak lagi dapat bekerja untuk menyortir kopi apalagi mencuci dan menggosok. 

Mak Rahmi sangat berharap bisa mendapatkan bantuan modal usaha, sehingga ia tidak perlu lagi bekerja kasar dan membuka usaha dirumah. 

“ Kaki kiri saya sering terasa sakit, saya juga sering mengalami pendarahan ”, mak Rahmi mengaku mengalami gejala itu bila ia mulai merasa stres. Jika sudah begitu, ia hanya memilih untuk berbobat ke bidan dan beristirahat. 

Mak Rahmi yang memiliki nama asli Syamsunah ini memiliki 4 orang anak. Anak pertamanya Rahmi, setelah menikah ikut bersama suaminya, tinggal tiga anaknya yang masih menjadi tanggungjawabnya.  Mukale Wantara yang berumur 17 tahun merupakan anak laki-laki satu-satunya yang turut membantu nafkah keluarga, mengalami kecelakaan dua hari setelah gempa. Sedangkan kedua adik perempuannya yang masih bersekolah  Apraha Zaru, 10 tahun dan Hairana Fisa, 8 tahun, terlihat masih ceria meski harus tidur di tenda yang dingin.
Luttawar.com
Puing-puing rumah Mak Rahmi
yang masih berdiri dikampung Paya Serngi (Foto:Valent)

Sejak hari pertama gempa, mak Rahmi merasa hidupnya semakin sulit karena sakit yang ia derita mak Rahmi memilih menumpang kerumah adiknya di Desa Pinangan, Kecamatan Kebayakan. Namun ternyata, hal itu membuat ia tidak mendapatkan bantuan baik dari rumahnya di kampung Paya Serngi maupun Pinangan. Sedangkan untuk tetap tinggal di rumah, mak Rahmi tidak memiliki tenda. Setelah beberapa kali menyampaikan keluhannya kepada Gecik, barulah mak Rahmi menerima bantuan tenda, beras dan selimut.

Saat ini, mak Rahmi hanya berharap dari bantuan yang datang tak menentu untuk menyambung hidupnya yang renta dan saki-sakitan. Untunglah tetangga-tetangganya masih sering mengulurkan bantuan makanan, terutama saat berbuka puasa.

Ramadhan kali ini memang terasa sangat berat bagi perempuan berumur 43 tahun ini. Hatinya sangat miris ketika anaknya meminta dimasakkan daging saat megang lalu.  Ia mencoba memberikan pengertian kepada anak bungsunya. Apalagi sebentar lagi lebaran, ia bahkan tak mampu memikirkannya.(valent)

Eks Pekerja Pelebaran Jalan Siang Ini Blokir Cot Panglima

Cut Panglima Bireuen-LintasGayo.co : Puluhan mantan tenaga kerja yang pernah dipekerjakan dalam proses pelebaran jalan di kawasan Cot Panglima Bireuen memblokir jalan tersebut sejak sekitar satu jam lalu. Demikian dilaporkan Idrus Saputra, tokoh pemuda Aceh Tengah yang sedang melakukan perjalanan ke Arah Bireuen, Minggu 8 Desember 2013.


Luttawar.com
Kawasan Cot Panglima: Foto-LK. Ara
Pemblokiran tersebut menurut Idrus yang menggali informasi di lokasi dipicu oleh tidak dibayarnya gaji para pekerja tersebut dengan jumlah sekitar Rp.32 Milyar.
“Kami sudah 1 jam disini tidak diperkenankan melintas baik dari arah Takengon, maupun sebaliknya dari Bireuen. Antrian sudah cukup panjang,” ujar Idrus Saputra.
Dijelaskan, pemblokiran itu juga mengerahkan 3 unit alat berat dan membuat lubang agar kenderaan tidak melintas. Di lokasi juga tampak sejumlah aparat keamanan. Hingga berita ini diterbitkan masih terjadi pemblokiran para pekerja tersebut (d’aKa)
 
Support : Creator Website | Muhammad Zaid Zuhdi | Bandung
Copyright © 2011. BLOGGER TAKENGON - All Rights Reserved
Redaksi Luttawar Menerima Kiriman Tulisan dan Foto dari Pembaca
Kirimkan Tulisan dan Foto Anda Via E-mail | redaksiluttawar[at]gmail.com |